Ads (728x90)


PROPOSAL PENELITIAN
JURUSAN PETERNAKAN PROGRAM STUDI PRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BENGKULU

JUDUL    : PENGARUH LAMA LAMPU MATI PADA MESIN TETAS TERHADAP   DAYA TETAS AYAM POTONG LOKAL (APL)
NAMA     : PUTRA KARYADI
NPM         : E1C007011
PU             : Ir. Hardi prakoso, Mp
PP             : Ir. Warnoto, Mp


I. PENDAHULUAN
            Dewasa ini teknologi penetasan telah sanggup menciptakan alat penetas buatan yang dikenal dengan mesin penetas telur (incubator), yang sepenuhnya dapat meniru tingkah laku induk ayam selama priode mengeram. Mesin penetas dibuat sebagai pengganti penetasan secara alami (natural incubator), untuk memperoleh sejumlah anak yang berkualitas tinggi dalam waktu bersamaan. Jenis mesin tetas dibuat secara beragam, mulai dari mesin yang paling canggih sampai pada mesin yang paling sederhana (tradisional). Keberhasilan mesin tetas sangat ditentukan oleh kestabilan temperature dalam mesin tetas. Dalam penggunaan mesin tetas skala kecil untuk penetasan ayam kampung masih dihadapkan pada masalah rendahnya daya tetas dikarenakan salah satu kendala yaitu matinya listrik (PLN OFF) ketika proses penetasan dilakukan.
Rasyraf (1995) menyatakan bahwa suhu yang ideal penetasan adalah antara 38,30C - 40,50C. Sedangkan kelembaban di dalam mesin tetas antara 60%-70%. Listiyowati dan roospitasari (2003) menyatakan, sumber pemanas yang terlalu lama mati mengakibatkan sumber panas yang dibutuhkan tidak mencukupi, sehingga benih dalam telur mati dan dapat mempengaruhi daya tetas telur yang ditetaskan. Anonimous (2005) menyatakan, pada suhu penetasan 32 0C (900F) untuk waktu tiga sampai 4 jam akan memperlambat perkembangan embrio di dalam telur. Kelembapan yang terlalu tinggi akan menyebabkan anak ayam dalam telur sulit untuk memecahkan kulit telur, walaupun dapat dipecahkan anak ayam tetap berada dalam telur dan dapat mati dalam cairan telur. Imanah dan Maryam (1992) menyatakan, jika kelembaban terlalu tinggi akan mencegah penguapan air dari dalam telur sehingga sulit dalam memecahkan kulit telur.
Hasil penelitian Siahaan (2006) membuktikan semakin lama lampu mati daya tetas puyuh semakin menurun. Anonimous (2009) menyatakan Induk merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas telur tetas sehingga dapat menetas dengan baik. Jenis yang berbeda akan memiliki daya tetas yang berbeda. Untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh lampu mati terhadap daya tetas ayam potong local (APL).
1.1 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi pengaruh lama lampu mati pada mesin tetas terhadap daya tetas telur Ayam Potong Lokal.

1.2 Hipotesis
            Semakin lama lampu mati pada mesin tetas akan menurunkan daya tetas telur Ayam Potong Lokal.

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ayam Potong Lokal (APL)
Ayam Potong Lokal (APL) atau sering disebut dengan ayam hibrida lokal adalah ayam hasil persilangan antara pejantan ayam kampung dengan ayam ras petelur betina (Muryanto dkk, 2004). Ayam ini diproduksi sebagai ayam potong (lokal), dimaksudkan untuk memenuhi permintaan masyarakat yang tinggi akan daging unggas khususnya daging ayam kampung. Produk ayam kampung baik berupa telur dan daging sangat disukai oleh masyarakat, namun ayam kampung sendiri tidak dapat diproduksi dalam jumlah besar, karena laju reproduksi dan pertumbuhannya lambat.
Hasil persilangan antara pejantan kampung dengan betina ras petelur pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan ayam kampong, selain itu tubuh dan karkasnya mirip ayam kampung serta tekstur daging sama dengan ayam kampung (Prawirodigdo, S., D dkk, 2001). Masakan dari ayam hasil persilangan baik dalam bentuk segar maupun beku ternyata mempunyai kualitas yang sama dengan masakan ayam kampung (Muryanto dkk 2002).

2.2 Penetasan Telur dengan Mesin Tetas
2.2.1 Mesin Tetas
            Tujuan penetasan dengan mesin tetas adalah untuk menetaskan telur tetas dalam jumlah banyak pada waktu yang sama sesuai dengan waktu dan rencana yang dikehendaki (Rasyraf, 1987).
            Pada dasarnya penetasan dapat dilakukan secara alami ( dengan induk unggas sendiri) dan secara buatan (dengan alat penetas pengganti induk). Penetasan secara alami untuk memperbanyak populasi telah dilakukan sejak adanya pemeliharaan unggas. Alat penetasan buatan dikenal dengan mesin tetas (Farry, 2001)

2.2.2 Suhu dan Kelembapan
            Suhu yang sesuai untuk penetasan telur ayam didalam mesin tetas diatur dengan kaidah-kaiadah penetasan yaitu suhu 38,3 0C (101 0C) pada hari pertama hingga hari ke-15 dan pada hari 16 hingga menetas suhu dinaikkan menjadi 39 0C (102 0F) dan kelembapan yaitu 60% pada hari pertama sampai hari ke-15 dan pada pada hari ke 16 hingga menetas dinaikkan menjadi  70%. Pengaturan suhu dan kelembapan didalam incubator dilakukan satu hari sebelum telur dimasukkan (Mayun dan Nugroho, 1981).
            Suhu yang diukur dengan thermometer ini memegang peranan yang sangat penting dalam penetasan telur karena hal ini berhubungan dengan faktor perkembangan embrio di dalam telur.suhu yang sedikit lebih rendah untuk priode yang tidak terlau lama tidak mempengaruhi dalam embrio kecuali memperlambat perkembangannya untuk embrio muda. Hal yang sediit berbeda jika terjadi pada embrio yang lebih tua karena pengaruhnya akan sedikit lebih berkurang. Jika suhu terlalu rendah dari kaidah penetsan telur ayam maka akan mempengaruhi embrio dalam hal perkembangan oragan-organnya yang berkembang tidak secara proporsional (Anonimous, 2009). Wiharto (1988) menyatakan, apabila suhu terlalu rendah umumnya menyebabkan kesulitan menetas dan pertumbuhan embrio tidak normal karena sumber pemanas yang dibutuhkan tidak mencukupi. Anonymous (2009) menyatakan, pada suhu penetasan 32 0C (90 0F) untuk waktu tiga sampai empat jam akan memperlambat perkembangan embrio pada ayam didalam telur. Imanah dan Maryam (1992) menyatakan, jika suhu didalam mesin tetas dibawah normal maka telur akan menetas lebih lama dari waktu yang ditentukan dan apabila suhu diatas normal, maka waktu menetas lebih awal dari waktu yang ditentukan.
            Kelembapan udara (humidity) juga penting dalam proses pemetasan karena hal ini menjaga telur dari kehilangan terlalu banyak atau terlalu sedikit kelembabannya selama proses penetasa telur. Kelembaban udara yang diukur dengan hygrometer ini harus dijaga karena ketidakakuratan dalam penerapan kelembaban udara dapat dipengaruhi secara signifikan keberhasilan penetasan telur (anonimous, 2009).
            Imanah dan Maryam (1992) menyatakan, jika kelembaban terlalu tinggi akan mencegah penguapan air dari dalam telur sehingga sulit dalam memecahkan kulit telur. Anonymous (2009) menyatakan, kelembaban yang terlalu tinggi dapat menyebabkan anak ayam didalam telur sulit untuk memecahkan kulit telur dan kalaupun dapat dipecahkan, anak ayam tetap berada di dalam telur dan dapat mati tenggelam dalam cairan telur itu sendiri.

2.2.3 Pemutaran Telur
            Imanah dan Maryam (1992)  menyatakan, pemutaran telur dilakukan secara mendatar yaitu bagian ujung yang tumpul selalu berada diatas. Tidak dilakukannya pemutaran dapat menyebabkan anan-anak ayam menetas dengan kaki pengkor.
            Listiyowati dan Roospitasari (2003) menyatakan, pemutaran telur puyuh dilakukan sebanyak dua kali sejak hari ke tiga hingga hari ke-13. Widyarti (1998) menyatakan bahwa, pemutaran telur itik dilakukan paling sedikit tiga atau sampai empat kali sehari semalam. Menurut Anonimous (2009), pemutaran telur ayam minimal tiga sampai lima kali sehari dengan waktu pemutaran dapat ditentukan sendiri. Pemutaran telur yang tidak sempurna juga menyebabkan telur tidak menetas sebab keterlambatan memutar mengakibatkan benih/embrio menempel atau lengket pada satu sisi kulit akibat daya tarik bumi dan mati (Sudaryani dan santoso,1994)



2.3 Fertiltas Telur
Fertilitas merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan dalam usaha penetasan karena hanya telur yang fertile yang dapat menghasilkan DOC. Fertilitas adalah persentase dari telur-telur yang memperlihatkan adanya perkembangan embrio dari sejumlah telur yang ditetaskan. Untuk mengetahui fertile atau tidaknya telur, dilakukan peneropongan  (Setiadi, 1995).
            Card et al (1961) disitasi Brata (1989) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan fertilitas adalah persentase telur-telur yang memperlihatkan adanya perkembangan embrio, tanpa memperhatikan apakah telur-telur tersebut menetas atau tidak dari sejumlah telur yang dieramkan. Selanjutnya dinyatakan bahwa dengan mengetahui fertilitas maka dapat dibedakan telur-telur yang bertunas atau tidak. Kedaan ini menguntungkan pembibit, tetapi fertilitas justru tidak dapat ditentukan dulu sebelum telur-telur ditetaskan. Ditambahkan juga bahwa fertilitas yang tinggi diperlikan untuk menghasilkan dan meningkatkan daya tetas.
            Fertilitas dipengaruhi jumlah jantan dan betina dalam satu kandang. Perbandingan jantan dan betina yang makin kecil akan menurunkan fertilitas. Fertilitas yang tinggi akan dicapai jika dalam satu kandang terdapat jantan dan betina dengan perbandingan 1:3 (Rasyaf, 1994). Listiyowati dan Roospitasari (1995) menambahkan bila terlalu banyak pejantan dalam satu kandang, maka pejantan tersebut dikhawatirkan bisa merusak betina karena terlalu sering dikawini. Selain itu, pejantan-pejantan ini akan menghabiskan banyak pakan.sdangkan bila jumlah betina terlalu banyak, banyak telur yang tidak terbuahi atau infertil sehingga tidak bisa digunakan sebagai telur tetas.

2.4 Berat Telur
            Menurut rasyraf (1984) seleksi telur telur tetas lebih dulu diutamakan pada berat telur karena akan mempengaruhi berat awal DOC, semakin berat telur tersebut maka DOC yang dihasilakan juga akan semakin berat.
            Imanah dan Maryam (1992) menyatakan bahwa berat telur sangat berpengaruh pada persentase daya tetas telur, telur  yang besar akan menghasilkan DOC anak ayam umur sehari relative lebih berat, pertumbuhan bulunya lebih cepat dan kematian lebih rendah.

2.5 Parameter Keberhasilan Penetasan
2.5.1 Daya Tetas
            Daya tetas dihitung dengan membandingkan jumlah telur yang menetas dengan jumlah seluruh telur yang fertil. Semakin tinggi jumlah telur yang fertil dari jumlah telur yang ditetaskan akan dihasilkan persentase daya tetas yang tinggi pula. Menurut North (1980), fertilitas yang tinggi diperlukan untuk menghasilkan daya tetas yang tinggi.salah satu faktor yang mempengaruhi fertilitas telur ialah rasio seks pejantan dan induk betina.
Rumus daya tetas telur adalah sebagai berikut:
Jumlah telur yang menetas
Daya Tetas      =                                                          x 100%
Jumlah telur fertile
            Rendahnya daya tetas bukan hanya disebabkan oleh tata laksana pemeliharaan, tetapi tehnik penetasan sangat penting dalam meningkatkan keberhasilan dalam usaha penetasan. Hal ini dapat terjadi ketika proses penetasan berlangsung sumber panas yang dibutuhkan tidak mencukupi karena matinya listrik. Listiowati dan Roospitasari (2003) menyatakan, jika sumber panas ini terlalu lama mati akan menyebabkan perubahan suhu yang dapat mematikan benih dalam telur. Anonimous (2009) menyatakan, temperature yang terlalu rendah dapat menghambat perkembangan embrio, pada suhu penetasan 90 0F (32 0C) untuk waktu tiga samapai 4 jam akan memperlambat perkembangan embrio ayam di dalam telur.

2.5.2 Bobot Tetas
            Bobot tetas adalah bobot DOC setelah menatas yang bulu badannya telah kering dan sebelum diberi makan atau minum untuk pertama kalinya. Kaharudin (1989) Menyatakan bahwa, salah satu faktor yang mempengaruhi bobot tetas yaitu bobot telur tetas. Sudaryani dan santoso (1994) menyatakan, bobot telur tetas merupakan faktor utama yang mempengaruhi bobot tetas, selanjutnya dikatakan bobot tetas yang normal adalah dua per tiga dari bobot telur dan apabila bobot tetas kurang dari hasil perhitungan tersebut maka proses penetasan bias dkatakan belum berhasil.
            Menurut Rasyraf (1984), seleksi telur tetas lebih dulu diutamakan pada bobot telur karena alan mempengaruhi bobot awal DOC, semakin berat telur tersebut maka DOC yang dihasilkan juga semakin berat.
2.5.3 Waktu menetas
            Ukuran telur tetas dapat mempengaruhi waktu menetas. Roospitasari dan listiyowati (2003) menyatakan bahwa, telur yang kecil akan menetas lebih cepat dibandingkan telur yang besar, karena telur yang besar dan yang kecil mempunyai luas permukaan yang berbeda sehingga daya serap panasnya pun akan berbeda.
            Suhu dan kelembapan mesin juga mempengaruhi lamanya waktu menetas telur. Suhu yang sesuai untuk penetasan telur puyuh dalam mesin tetas diatur sesuai dengan kaidah-kaidah penetasan yaitu suhu 38,3 0C (101F) pada hari pertama sampai hari ke-15 dan hari ke-16 hingga menetas yaitu 39 0C (102 0F) dan kelembapan 60% mulai dari hari pertama hngga hari ke-15 dan 70% pada hari ke-16 hingga telur ayam menetas.
            Imanah dan Maryam (1992) menyatakan, jika suhu dibawah normal maka telu akan menetas lebih lama dari waktu yang ditentukan dan apabila suhu dalam mesin tetas diatas normal, maka waktu menetas lebih awal dari waktu yang ditentukan. Sedangkan kelembapan terlalu tinggi akan mencegah penguapan air dari dalam telur sehingga sulit dalam memecahkan kulit telur. Anonimous (2005) menyatakan bahwa, kelembapan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan anak ayam dalam telur akan sulit memecahkan kulit telur.

2.5.4 Kematian Embrio (mortalitas embrio)
            Menurut Manyun dan Nugroho (1981), kematian embrio banyak terjadi dalam keadaan kritis selama waktu penetasan. Ada dua fase kritis embrio dalam penetasan, yaitu pada tiga hari pertama masa penetasan dan tiga hari sebelum menetas. Mortalitas embrio dapat ditentukan pada hir penetasan denan pemecahan telur yang tidak menetas. Hal ini dapat diketahui dari tidak menetasnya telur pada ahir penetasan.
            Hasil tetasan yang normal dari sebuah mesin tetas adalah 75% sampai 85%. Bila ahasilnya kurang dari hasil tersebut, kemungkinan disebabkan selama priode penetasan terjadi perubahan temperature yang besar (Mayun dan Nugroho, 1981). Hal ini dapat terjadi ketika proses penatasan berlangsung sumber panas yang dibutuhkan tidak mencukupi dikarenakan matinya listrik. Rospitasari dan Listiowati (2003) menyatakan, jika sumber pemanas terlalu lama mati akan menyebabkan perubahan suhu yang dapat mematikan benih dalam telur.

III. METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
            Penelitian dilaksanakan pada tanggal………. Sampai ……….2011, di Kota Bengkulu.

3.2 Alat dan bahan
            Penelitian menggunakan 360 butir telur ayam kampung yang didapat dari satu peternak ayam kampung sebagai materi penelitian. Telur tersebut ditetaskan dalam 4 unit mesin tetas (incubator) yang terbuat dari tripleks dengan sumber panas yang digunakan adalah lampu listrik (5 watt) sebanyak 6 buah per mesin tetas, timbangan analitik O-Hous dengan kapasitas 300 gram, air hangat, kapas, alcohol 70%, generator dan peralatan lain yang mendukung.

3.3 Variabel yang diamati
-          Rataan persentase daya tetas, dihitung dengan rumus;

Jumlah telur yang menetas
Daya Tetas      =                                                          x 100%
Jumlah telur fertile
-          Rataan bobot tetas, adalah bobot DOC yang ditimbang saat baru menetas dan bulunya sudah kering, yaitu saat DOC sekitar 10 jam.
-          Rataan persentase kematian embrio dihitung dengan rumus

Jumlah telur yang mati
                                                                                                x 100%
Jumlah telur yang fertile
-          Rataan waktu menetas dihitung berdasarkan jumlah jam sejak telur masuk mesin tetas sampai waktu DOC keluar dari cangkang telur.
-          Suhu dan kelembadan diukur setiap hari pada ahir perlakuan pemadaman lampu.

3.4 Tahapan Penelitian
3.4.1 Tahap persiapan
·         Mengumpulkan telur yang akan ditetaskan 4 hari sebelum penetasan dilaksanakan.
·         Mensanitasi mesin tetas dan mengatur suhu (38,3 0C) dan kelembapan mesin tetas (60%) (Mayun dan Nugroho, 1981).
·         Membersihkan telur dengan menggunakan kapas yang dibasahi air hangat kuku.
·         Membersihkan telur dengan menggunakan kapas yang dibasahi alcohol 70%.
·         Menimbang telur yang akan ditetaskan di dalam mesin tetas.

3.4.2 Tahap Pelaksanaan
·         Memasukkan telur yang akan ditetaskan kedalam mesin tetas.
·         Mengatur suhu kelembapan mesin tetas sesuai dengan kaidah-kaidah penetasan yaitu suhu 38,3 0C (101 0F) pada hari pertama hingga hari ke 15 dan hari ke 16 hingga menetas suhu dinaikkan menjadi 39 0C (102 0F), kelembapan diatur 60% pada hari pertama hingga ke-15 sampai 70% pada hari ke 16 sampai menetas.
·         Memutar telur sebanyak 2 kali per hari yaitu pada hari (pukul 07.00WIB) dan sore hari (pukul 18.00 WIB), mulai hari kelima penetasan hingga hari ke-15 (listiyowati dan roospitasari,2003)
·         Melakukan perlakuan pemadaman lampu mesin tetas mulai hari ke-5 dan hingga hari ke 15. Masa perlakuan ditentukan untuk menghindari pengaruh masa kritis pertama dan kedua.
·         Mengamati suhu dan kelembapan setiap hari saat ahir perlakuan pemadaman lampu.
·         Menghitung jumlah telur yang menetas dan mati (dalam telur dan saat piping) dari sejumlah telur yang fertile untuk mendapatkan daya tetas dan kematian embrio.
·         Menghitung waktu menetas berdasarkan jumlah jam sejak telur masuk mesin tetas sampai waktu anak ayam keluar dari cangkang telur.
·         Menimbang setiap anak ayam saat baru menetas dan bunya sudah kering atau saat umur DOC sekitar 10 jam setelah menetas.

3.5 Analisis Data
            Penelitian  terdiri 4 perlakuan pemadaman lampu dan setiap perlakuan terdiri 3 ulangan, setiap ulangan terdiri 30 butir telur sehingga setiap perlakuan terdiri 90 butir telur. Perlakuan lama pemadaman lampu sebagai berikut :
            P1: Lampu mati selama 0 jam/hari
            P2: Lampu mati selama 2 jam/hari (09.00-11.00)
            P3: Lampu mati selama 3 jam/hari (09.00-13.00)
            P4: Lampu mati selama 4 jam/hari (09.00-15.00)

Tabel skema mesin tetas
Data daya tetas, kematian embrio, bobot tetas dan waktu menetas yang diperoleh diuji secara statistik dengan rancangan acak lengkap (RAL). Bila hasil sidik ragam menunjukkan perbedaan nyata, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT), untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Data suhu dan kelembapan dianalisis secara deskriptif.







DAFTAR PUSTAKA

Anonimous . 2009. Induk Menentukan Daya tetas. http://Aspan-gabe.com/persiapan
Anonimous. 2005. Tips Penetasan Dan Setelah Penetasan. http://www.glory-farm.com/ptetas_mesin/tips_tetas.htm.
Brata, B. 1989. Pengaruh frekwensi selama penyimpanan telur tetas puyuh (Coturnix-coturnix Japonica) terhadap daya tetas. Laporan penelitian. Universita Bengkulu.
Farry. 2001. Membuat dan Mengelola Mesin Tetas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Imanah dan maryam. 1992. Mesin Tetas dan System Pemeliharaan Ayam. C.V. Bahagia Pekalongan.
Kaharudin, D. 1989. Pengaruh bobot telur tetas terhadap boot tetas, daya tetas, pertambahan berat badan dan angka kematian sampai umur 4 minggu pada puyuh telur (Coturnik-coturnik japonica). Laporan penelitian. Universitas Bengkulu.
Listiowati, E. dan Roospitasari, K. 1995. Puyuh, tata laksana budidaya secara komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.
Listiowati, E. dan Roospitasari, K. 2003. Tata laksana budidaya puyuh secara komersil. Penebar swadaya. Jakarta.
Rasyraf, M. 1984. Pengelolaan Penetasan. Kanisius. Yogyakarta.
Rasyraf, M. 1995. Beternak Ayam Kampong. Karya Anda. Surabaya.
Rasyraf, M. 1987. Memelihara Burung Puyuh. Kanisius. Yogyakarta.
Setiadi, P. 1995. Perbandingan berbagai metode penetasan telur ayam kedu hitam daerah pengembangan Kalimantan Selatan. Seminar Nasional Sains dan Teknologi Peternakan. Balai Penelitian Ternak Ciawi-Bogor.
Siahaan, J. 2006. Pengaruh Lama Lapu Mati Pada Mesin Tetas Terhadap Daya Tetas Telur (cotumix-cotumix japonica). Skripsi Program Studi Produksi Ternak Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu
Sudaryani, T.H, dan Santoso. 1994. Pembibitan Ayam Ras. Penebar Swadaya. Jakarta.
Muryanto, T.Paryono, Ernawati, P.S. Hardjosworo, H. Setijanto dan L.S. Graha. 2004. Prospek Ayam Hasil Persilangan Ayam Kampung Dengan Ras Petelur Sebagai Sumber Daging Unggas Yang Mirip Ayam Kampung. Seminar Teknologi Pangan Hewani. UNDIP Semarang.
Nugroho dan I. Mayun. 1981. Beternak burung puyuh. Eka Offset. Semarang.
Prawirodigdo, S., D. Pramono, Ernawati, B. Budiharto, P. Lestari, Sugiono, G. Sejati, Prawoto, S. Iskandar dan D. Zaenudin. 2001. Pengkajian Partisipatif Persilangan Ayam Pelung x Ayam Ras Petelur dan Ayam Lokal. Laporan Hasil Pengkajian. BPTP Jawa Tengah.
Wiharto. 1988. Petunjuk Pembuatan Mesin Tetas. Lembaga Penerbit. Universitas Brawijaya.
Windyarti, S. S. 1998. Beternak itik tanpa air. Penebar Swadaya. Jakarta.
-----

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PROGRAM
PEMBIBITAN ENTOK DENGAN MENGGUNAKAN
MESIN PENETAS TELUR SISTEM RAK PUTAR
UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS INDUK
BIDANG KEGIATAN
PKM-K
Diusulkan oleh:
Budi Nuryanto      K7405039       Angkatan 2005
Aminudin              K8407014       Angkatan 2007
Adhik Susanto      K8407013       Angkatan 2007
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009
1.      Judul Kegiatan         :
PEMBIBITAN ENTOK DENGAN MENGGUNAKAN MESIN PENETAS TELUR SISTEM RAK PUTAR UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS INDUK
2.      Bidang Kegiatan      :
(   ) PKM-P
(   ) PKM-T
(V) PKM-K
(   ) PKM-M
3.      Bidang Ilmu             :
(   ) Kesehatan
(   ) MIPA
(   ) Sosial Ekonomi
(   ) Pendidikan
(V) Pertanian
(   ) Teknologi dan
Rekayasa
(   ) Humaniora
4.      Ketua Pelaksana Kegiatan
a.    Nama Lengkap                                  : Budi Nuryanto
b.    NIM                                                  : K7405039
c.    Jurusan                                              : P. IPS/ P. Ekonomi
d.   Universitas                                        : Universitas Sebelas Maret Surakarta
e.    Alamat Rumah dan No. Telp./HP     : Pilangrejo RT07 RW03, Genengduwur, Gemolong, Sragen, Jawa Tengah.
f.     Alamat Email                                    : bubud_nur@yahoo.com
5.      Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis    : 3 orang
6.      Dosen Pendamping
a.    Nama Lengkap dan Gelar                 : Jonet Ariyanto N. SE, MM
b.    NIP                                                   : 19750728  200501 1 002
c.    Alamat Rumah dan No. Telp./ HP    : Jl. Tirtosari No.5 Sriwedari, Surakarta
: 02715888816/ 08170440600
6.   Biaya Kegiatan Total                             :
DIKTI                                                   : Rp.  10.000.000,00
7.   Jangka Waktu Pelaksanaan                   : 4 bulan
Surakarta, 14 Juli 2009
Pembantu Dekan III                                            Ketua Pelaksana Kegiatan
Universitas Sebelas Maret
Drs. Amir Fuadi, M.Hum Budi Nuryamto
NIP. 19520729 198010 1 001                                        NIM. K7405065
Pembantu Rektor III,                                                    Dosen Pendamping
Drs. Dwi Tiyanto, S.U Jonet Ariyanto N, SE, MM
NIP. 19540414 198003 1 007                             NIP. 19750728  200501 1 002
A.    Judul
PEMBIBITAN ENTOK DENGAN MENGGUNAKAN MESIN PENETAS TELUR SISTEM RAK PUTAR UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS INDUK
B.     Latar Belakang Masalah
Entok (mentok dalam bahasa Jawa) adalah binatang yang tergolong dalam keluarga unggas. Binatang ini termasuk binatang yang mudah dipelihara dan lebih kebal terhadap segala macam penyakit. Di Solo dan sekitarnya banyak orang yang berminat memelihara binatang ini, tetapi belum banyak yang berusaha untuk menyediakan bibitnya. Meskipun ada jumlahnya masih sedikit dan dengan cara yang sangat sederhana, sehingga harganya masih cukup mahal. Dengan menggunakan mesin penetas telur system rak putar, maka produktivitas akan semakin meningkat dan biaya dapat ditekan.
Binatang ini banyak diminati untuk dibesarkan karena selain salah satu sifatnya yang lebih tahan terhadap penyakit juga karena harga jualnya yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan harga bebek. Di daerah Solo dan sekitarnya (pada bulan april 2009) harga entok betina dewasa berkisar antara Rp.30.000,00 - Rp.40.000,00 dan harga menthok jantan dewasa berkisar antara Rp.50.000,00 - Rp.70.000,00. Sedangkan harga bebek betina dewasa hanya berkisar antara Rp.25.000,00 - Rp.33.000,00 dan harga bebek jantan dewasa berkisar antara Rp.20.000,00 - Rp.25.000,00. Sehingga banyak yang tertarik membesarkan entok daripada bebek, tetapi kenyataan di lapangan pembibitan bebek lebih banyak daripada pembibitan entok. Ketertarikan masyarakat terhadap entok ini dapat terlihat di pasar Depok dan Bekonang dengan selalu habisnya stok bibit entok yang dijual oleh para pedagang.
Dengan melihat latar belakang diatas maka perlu didirikan usaha pembibitan entok secara modern yang dapat menghasilkan bibit entok yang murah, banyak dan berkualitas.
C.     Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peluang usaha yang akan diraih adalah:
1.      Bagaimana untuk memenuhi permintaan masyarakat akan kebutuhan bibit entok?
2.      Bagaimana cara menyediakan bibit entok yang murah, banyak dan berkualitas?
D.    Tujuan
Tujuan dari usaha ini adalah:
1.      Untuk memenuhi permintaan masyarakat akan kebutuhan bibit entok.
2.      Untuk menyediakan bibit entok yang murah, banyak dan berkualitas
E.     Luaran yang Diharapkan
Usaha ini untuk menyediakan bibit entok yang murah, berkualitas dan banyak yang saat ini kondisi dilapangan masih kekurangan.
F.      Kegunaan
Manfaat yang akan diperoleh dalam usaha ini adalah:
1.      Manfaat Ekonomi
Usaha ini akan memberikan manfaat ekonomi atau dapat meningkatkan penadapatan baik bagi pengelola usaha sendiri, pedagang maupun para peternak entok (pembesaran).
2.      Manfaat Sosial
Usaha ini memberikan beberapa manfaat sosial di antaranya:
Ø  Menyediakan bibit entok bagi masyarakat yang ingin memeliharanya
Ø  Dalam jangka panjang, apabila bisnis ini telah semakin besar maka dapat menyerap tenaga kerja yang berarti dapat mengurangi pengangguran.
G.    Gambaran Umum Rencana Usaha
Kegiatan usaha ini adalah pembibitan entok. Kegiatan di mulai dari pembelian induk. Rencana awal induk yang di beli 60 betina dan 10 jantan yang terbagi dalam 10 kandang, yang setiap kandang berisi 6 betina dan 1 jantan. Diperkirakan setiap hari dapat menghasilkan 30 sampai 35 telur. Setiap 5 hari sekali telur akan di masukkan ke dalam mesin penetas. Diharapkan dalam satu bulan dapat memasukkan 1.000 butir telur. Dengan menggunakan mesin penetas telur system rak putar, dapat diprediksi minimal 90 % telur menetas. Setelah 30 hari telur akan menetas.
Produk yang akan dihasilkan dalam usaha ini adalah bibit entok yang berumur 1-5 hari atau tergantung dari permintaan konsumen. Produk ini memiliki keunggulan dengan harga murah karena dilakukan secara modern dan kualitas yang terjamin.
Pada awal usaha wilayah pemasaran yang akan dibidik adalah pasar Depok, Bekonang dan Gawok, karena tempat ini banyak terdapat pedagang dan konsumen yang mencari bibit entok.
Kebutuhan pasar pada ketiga tempat tadi masih cukup banyak di Depok 400 perbulan atau 4.800 pertahun, dan di Bekonang 2.000 perbulan atau 24.000 pertahun, sedangkan di Gawok 2.500 perbulan atau 30.000 pertahun. Diperkirakan permintaan ini setiap tahunnya akan semakin bertambah, karena diusahakan harganya akan dibuat semakin murah dari sekarang. Pada awal usaha ini, usaha ini akan menghasilkan ±900 ekor bibit entok perbulan.
Dalam usaha ini belum banyak pesaingnya, para pesaing biasanya hanya melakukan secara tradisional yang harga jualnya masih cukup tinggi.
Proyeksi Laba Rugi Perbulan
Penjualan 900 ekor @ Rp.4.000,00                                        Rp. 3.600.000,00
Biaya-biaya
Biaya pakan                            Rp. 900.000,00
Biaya obat-obatan                   Rp. 100.000,00
Biaya penjualan                       Rp. 200.000,00
Biaya listrik dan air                 Rp. 100.000,00
Biaya lain-lain                         Rp. 200.000,00 +
Total biaya                                                                              (Rp. 1.500.000,00) -
Laba bersih per bulan                                                              Rp. 2.100.000,00
H.    Metode Pelaksanaan
Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah:
1.      Pemeliharaan Induk
Pemeliharaan induk ini agar menghasilkan telur yang berkualitas. Agar telur yang dihasilkan dapat ditetaskan maka dalam satu kandang diisi 6 betina dan 1 jantan. Selanjutnya untuk mengurangi biaya perawatan maka pakan yang di gunakan tidak pakan dari pabrik, tetapi pakan alternatif (ramsum buatan sendiri, denagan menggunakan beberapa campuran) denagan demikian dapat menghemat biaya dan hasil produktivitas telur masih terjaga. Campuaran ransum yang digunakan adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Formula Ransum Itik petelur yang Memenuhi Syarat
Bahan Baku
Jagung giling
Dedak halus
Ubi kayu
Tepung ikan
Bungkil kelapa
Bungkil kedele
15 %
60 %
5 %
10 %
5 %
5 %
J u m l a h
Kadar protein Ransum
100 %
15 - 17 %
Pada saat induk bertelur kebutuhan pakan 120 gr per hari. Total sehari pakan yang digunakan adalah 11 kg. Untuk memperoleh ransum tersebut per harinya diperlukan Rp. 30.000,00 atau Rp. 900.000,00 perbulan. Untuk menjaga agar induk tetap sehat, maka perlu dijaga kebersihan dan pemberian obat dan vitamin.
2.      Penetasan
Penetasan di sini tidak menggunakan induk entok, tetapi menggunakan mesin penetas telur system rak putar. Dengan menggunakan mesin penetas telur ini maka akan meningkatkan produktivitas telur, karena induk hanya bertelur saja tanpa mengerami sendiri telunya.
3.      Pemeliharaan Anak Entok
Setelah telur berada dalam mesin penetas telur selama 30 hari, maka telur akan menetas menjadi anak entok. Sebelum anak entok dipasarkan maka perlu dirawat dulu antara 1 - 5 hari atau tergantung permintaan konsumen. Agar anak entok mempunyai kualitas yang baik maka perlu di beri pakan yang berkualitas, vaksin, dan vitamin.
4.      Pemasaran
Pemasaran langsung dijual kepada pedagang di pasar Depok, Bekonang, Gawok atau konsumen langsung. Dalam pemasaran ini sudah ada mitra sendiri, jadi dipastikan produk yang dihasilkan dapat dipasarkan.
I.       Jadwal Kegiatan
Tabel 2. Jadwal Pelaksanaan
Bulan ke-1 Bulan ke-2 Bulan ke-3 Bulan ke-4
  • Persiapan
Ø  Pembuatan Kandang
Ø  Pembelian Perlengkapan Kandang
Ø  Pembelian Mesin Tetas
Ø  Pembelian Induk
  • Pelaksanaan
Ø  Pemeliharaan Induk
Ø  Penetasan
Ø  Pemeliharaan Anak Entok
Ø  Pemasaran
  • Penyusunan Laporan
Keterangan:
Pelaksanaan untuk kegiatan yang dilaporkan
Pelaksanaan untuk keberlanjutan usaha yang dijalankan
J.       Rancangan Biaya
Rencana Pembiayaan Usaha dan Modal Kerja
Pembelian Mesin Tetas 7 @ Rp. 510.000,00                       Rp.  3.570.000,00
Pembelian Induk Betina 60 @ Rp. 35.000,00                     Rp.  2.100.000,00
Pembelian Induk Jantan 10 @ Rp. 60.000,00                        Rp.    600.000,00
Pembuatan Kandang dan Perlengkapannya                        Rp.  1.930.000,00
Biaya Pakan Bulan Pertama                                                 Rp.     900.000,00
Biaya obat-obatan                                                                Rp.     100.000,00
Biaya penjualan                                                                    Rp.     200.000,00
Biaya listrik dan air                                                              Rp.     100.000,00
Biaya lain-lain                                                                      Rp.     200.000,00 +
Jumlah Rencana Pembiayaan Usaha dan Modal Kerja       Rp.  9.700.000,00
Penyusunan Laporan                                                            Rp.     300.000,00 +
Total biaya                                                                           RP.10.000.000,00
K.    Lampiran- Lampiran
a)      Lampiran 1. Biodata Ketua Kelompok
Nama                                             : Budi Nuryanto
NIM                                              : K7405039
Tempat, Tanggal Lahir                  : Sragen, 14 Desember 1985
Fakultas/Program Studi                : FKIP/P. Ekonomi
Perguruan Tinggi                           : Universitas Sebelas Maret Surakarta
Waktu Untuk Kegiatan PKM       : 15 jam per minggu
Agama                                           : Islam
Alamat Rumah                              : Pilangrejo RT07 RW03,  Genengduwur,
Gemolong, Sragen, Jawa Tengah.
Riwayat Pendidikan                     : MI Gemolong
SMP N 2 Gemolong
SMA N 1 Gemolong
Pend. Ekonomi UNS
Surakarta, 14 Juli 2009
Budi Nuryanto
K7405039
b)      Lampiran 2. Biodata Anggota Kelompok
Nama                                             : Aminudin
NIM                                              : K8407014
Tempat, Tanggal Lahir                  : Sragen, 29 Maret 1988
Fakultas/Program Studi                : FKIP/P. Sosiologi Antropologi
Perguruan Tinggi                           : Universitas Sebelas Maret Surakarta
Waktu Untuk Kegiatan PKM       : 15 jam per minggu
Agama                                           : Islam
Alamat Rumah                              : Pilangrejo RT07 RW03,  Genengduwur,
Gemolong, Sragen, Jawa Tengah.
Riwayat Pendidikan                     : MI Gemolong
SMP Muhammadiyah 9 Gemolong
SMA Muhammadiyah 2 Gemolong
Pend. Sosiologi Antropologi UNS
Surakarta, 14 Juli 2009
Aminudin
K8407014
c)      Lampiran 3. Biodata Anggota Kelompok
Nama                                             : Adhik Susanto
NIM                                              : K8407013
Tempat, Tanggal Lahir                  : Sragen,  03 Juli 1988
Fakultas/Program Studi                : FKIP/P. Sosiologi Antropologi
Perguruan Tinggi                           : Universitas Sebelas Maret Surakarta
Waktu Untuk Kegiatan PKM       : 15 jam per minggu
Agama                                           : Islam
Alamat Rumah                              : Prambatan Kidul RT04 RW02, Kaliwungu,
Kudus
Riwayat Pendidikan                     : SD N 1 Prambatan Kidul
SMP N 1 Kaliwungu
SMA N 1 Kaliwungu
Pend. Sosiologi Antropologi UNS
Surakarta, 14 Juli 2009
Adhik Susanto
K8407013
d)     Lampiran 4. Biodata Dosen Pendamping
Nama Lengkap dan Gelar             : Jonet Ariyanto N. SE, MM
Tempat, Tanggal Lahir                  : Surakarta, 28 Juli 1975
Golongan Pangkat dan NIP          : III B / 19750728  200501 1 002
Alamat rumah                               : Jl. Tirtosari No. 5 Sriwedari, Surakarta
Jenis kelamin                                 : Laki-laki
Agama                                           : Islam
Status pernikahan                          : Menikah
Pendidikan Tertinggi                    : S2
Jabatan Fungsional                        : Asisten Ahli
Jabatan struktural                          : Ketua Laboratorium BKK PTN
Fakultas/Program Studi                : FKIP/P. EKONOMI
Perguruan Tinggi                           : Universitas Sebelas Maret
Bidang Keahlian                           : Kewirausahaan
Waktu kegiatan PKM                   : 10 jam per minggu



Surakarta, 14 Juli 2009
Jonet Ariyanto N. SE, MM
NIP. 19750728  200501 1 002
e)      Lampiran 5. Teknologi yang Diterapkan
Mesin penetas telur system rak putar. Dengan menggunakan teknologi ini maka produktivitas dari induk akan semakin tinggi, karena induk tidak perlu mengerami telurnya sendiri. Teknologi ini mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi. Dengan mengikuti tata cara yang benar, keberhasilan telur yang menetas bisa di atas 90 %.
Mesin penetas telur sistem rak putar adalah generasi terbaru alat penetas telur kapasitas kecil yang bertujuan untuk mengoptimalkan efesiensi penetasan dengan teknik yang jauh lebih praktis dan mudah. Mesin penetas telur ini dibuat dengan mengaplikasikan teknologi yang hanya dimiliki oleh mesin penetas kapasitas besar, dengan berbagai keunggulan seperti efesiensi penetasan tinggi, kemudahan pengoperasian, model yang artistik dan sangat ringan.
Spesifikasi mesin penetas telur yang digunakan :
Ø  Kapasitas : ± 150 butir telur entok
Ø  Ukuran : 90×40×32 cm
Ø  Daya listrik : 40 watt 220V
Ø  Bahan multipleks dan MDF (Medium density fiberboard)
Keunggulan Mesin:
Ø  Menggunakan sistem rak putar, pemutaran semua telur hanya dengan sekali operasi, tanpa membalik dengan tangan satu per satu.
Ø  Rak telur desain beru terbuat dari bahan full alumunium, dengan ram profil U sangat baik dalam meratakan panas pada telur, tahan karat serta lebih higienis.
Ø  Efesiensi penetasan tinggi, 80-90 %, dengan potensi mencapai 100%.
Ø  Pemanasan darurat menggunakan plat pemanas, cukup memakai lampu minyak atau lilin.
Ø  Kontrol panas otomatis dengan thermostat yang dapat disetel dari luar mesin, dengan fluiktuasi suhu hanya 1oF. sangat akurat dang praktis.
f)       Lampiran 6. Denah Lokasi

Gb.1. Denah Lokasi
g)      Lampiran 7. Gambar Kandang
Gb. 2. Kandang dilihat dari samping dan atas
h)      Lampiran 8. Contoh Produk

Gb.3. contoh produk 
-----

 contoh proposal usaha itik

No. : 20013/MKT/VI/08 Jakarta, 12 Juni 2008
Lamp : 1 bundel proposal
Perihal : Penawaran Berinvestasi
Kepada Yth,
Netter
Di
Tempat
Assalamua’alaikum Wr. Wb.
Teriring salam, semoga ikhwah fillah senantiasa mendapat Rahmat dari Allah SWT dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Amin
Dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, maka Kampoeng Ternak & KLAB SANTRI PEDULI akan mensosialisasikan Rencana Pengadaan Hewan Ternah berupa Itik Petelur secara luas kepada masyarakat. Disamping bermakna ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT, juga memiliki nilai kepedulian dan manfaat sosial yang cukup tinggi, antara lain yaitu Insya Allah akan menjadi pendapatan langsung bagi masyarakat sekitar, khususnya pengelola. Lokasi peternakan akan di tempatkan di Kec. Pundong, Kab. Bantul yang mana merupakan dareah Gempa pada tahun 2006 yang masyarakatnya banyak yang mengalami kehilangan pekerjaan akibat musibah Gempa.
Dengan latar belakang itulah, Kampoeng Ternak menawarkan kerjasama dalam bentuk Pengadaan Hewan Ternak yang berupa Itik Petelur. Mudah-mudahan kerjasama yang terjalin membantu meningkatkan kemajuan umat khususnya kaum dhuafa sekaligus meningkatkan social image perusahaan di masyarakat.
Demikian surat penawaran ini kami sampaikan, atas kerjasama yang baik kami ucapkan terima kasih.
Wassalamua’laikum Wr. Wb.
Hormat Kami,
Ika Dewi
GM Kampoeng Ternak
1
PROPOSAL KERJASAMA
RENCANA PENGADAAN HEWAN TERNAK
ITIK PETELUR
OLEH
KAMPOENG TERNAK &
KLAB SANTRI PEDULI
2
PROPOSAL KERJASAMA
RENCANA PENGADAAN HEWAN TERNAK
I. PENDAHULUAN
Pemberdayaan Peternak adalah salah satu bagian dari pengembangan Kampoeng Ternak guna menghidupkan potensi peternakan lokal masyarakat yang berbasis pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dhuafa, khususnya di pedesaan.
Dari kenyataan yang ada saat ini, perkembangan permintaan terhadap telur itik dari tahun ke tahun semakin meningkat, sementara produksi telur yang dihasilkan tidak sebanyak jumlah permintaan. Artinya, jumlah permintaan telur itik masih jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah produksi telur yang dihasilkan para peternak Itik.
Oleh karena itu, Kampoeng Ternak menawarkan kerjasama Rencana pengadaan hewan ternak. Melalui kegiatan ini, disamping meningkatkan kualitas kesejahteraan penanam modal dan masyarakat sebagai pengelola peternakan, juga anda akan membantu dalam mensukseskan setiap kegiatan sosial yang dilaksanakan Klab Santri Peduli (http://ksp.kotasantri.com) karena sebagian dari keuntungan yang diperoleh akan di infaqkan untuk Klab Santri Peduli.
Sekali beribadah, ribuan masyarakat menikmatinya....
II. TUJUAN
1. Membantu kemudahan perencanaan dan pelaksanaan program Klab Santri Peduli
2. Menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar
3. Mendukung terbukanya jaringan pasar ternak sehingga membantu menghidupkan roda perekonomian masyarakat di titik sasaran.
III.TARGET
1. Adanya kemudahan bagi konsumen dalam penyediaan telur itik
IV. MANFAAT KERJASAMA
Bagi KAMPOENG TERNAK :
1. Menyediakan kebutuhan pemeliharan ternak, seperti: kandang, obat-obatan, pakan, hewan ternak, serta pegawai (masyarakat sekitar)
2. Memperoleh akses pasar dengan harga yang kompetitif dalam penjualan hasil ternak
3. Memberikan alternatif penghasilan (income)
4. Menambah ketrampilan, etos kerja
Bagi Stakeholder/donatur :
1. Dapat menjadi media membangun kemandirian anggota dan tempat wisata ternak.
2. Ikut berperan dalam membantu pengembangan peternakan itik petelur di Indonesia.
3. Meningkatkan social image bagi lembaga/intansi peserta.
4. Turut menyukseskan program-program sosial Klab Santri Peduli
3
V. SIKLUS PELAKSANAN
Teknis PelaksanaanPenjelasan & kesepakatan bentuk kerjasama Pengisian Formulir kesediaan kerjasamaPenandatanganan MoU kerjasama Pembayaran dana Investasi Pemeliharaan ternak dan pemberdayaan Penyerahan bagi hasil, dan laporan keuangan Pembayaran angsuran bulanan Evaluasi & penutupan kerjasama1 2 345 6 78
VI. TEKNIS PELAKSANAAN
1. Penjelasan & Kesepakatan Bentuk kerjasama
2. Pengisian Formulir Keseidan kerjasama
3. Penandatanganan MoU kerjasama
4. Pembayaran Investasi
5. Pemeliharaan ternak & Pemberdayaan
6. Penyerahan bagi hasil pada setiap akhir bulan (dimulai bulen ke-2 anda berinvestasi)
6. Pembayaran Anguran pengembalian modal pada setiap akhir bulan
(dimulai bulan ke-2 anda berinvestasi)
7. Evaluasi & Penutupan Kerjasama
VII. WAKTU PELAKSANAAN
KETERANGAN WAKTU
1.Penawaran & kesepakatan kerjasama Juni-Agustus 2008
2.Penandatanganan kerjasama Juni-Agustus 2008
3.Pemeliharaan Ternak -
4.Penyerahan bagi hasil Setiap akhir bulan, dimulai pada
bulan ke-2 setelah ber-investasi
5.Penjualan & pemasaran hasil ternak -
VIII. JENIS & KAPASITAS TERNAK
1. Itik Mojosari, Kapasitas 1,000 s/d. 1,500 Ekor
IX. LOKASI PEMELIHARAAN
Dusun Potrobayan, Desa Srihardono, 4
Kec. Pundong, Kab. Bantul,
D.I. Yogyakarta
X. BENTUK KERJASAMA DAN SISTEM BAGI HASIL
#. KERJASAMA BERUPA PINJAMAN MODAL / INVESTASI
Kami menerima kerjasama berupa modal usaha. Total modal yang dibutuhkan adalah Rp. 65,500,000 / 1 Proyek. modal tersebut akan digunakan untuk pembuatan kandang, dan pembelian hewan ternak. Sedangkan lahan usaha sudah dimiliki sendiri oleh KAMPOENG TERNAK.
Hewan ternak berupa Itik yang dibutuhkan sebanyak 1000 ekor, dengan harga Rp. 43,000/ekor. Sedangkan proses pembuatan kandang akan membutuhkan biaya yang berkisar antara Rp. 5,000,000 s/d. Rp. 7,000,000.
Nilai modal /investasi yang dapat disalurkan kepasa KAMPOENG TERNAK adalah minimal sebesar Rp. 5,000,000 dan maksimal Rp. 20,000,000. Kami membatasi jumlah Investasi agar tidak terjadi monopoli sehingga ikhwah fillah yang lain juga dapat ikut berperan serta dalam berinvestasi.
# SISTEM BAGI HASIL
Setiap modal yang di investasikan sebesar Rp. 5,000,000 akan mendapatkan bagi hasil sebesar 2,5%/bulan dan berlaku untuk kelipatannya.
Jangka waktu pinjaman modal/investasi adalah 2 tahun s/d. 5 tahun, tetapi nantinya investor akan dapat berinvestasi kembali dengan cara mengikuti pendaftaran baru.
XI. TEKNIS PENGEMBALIAN PINJAMAN MODAL/INVESTASI
Sistem pengembalian modal usaha adalah dengan cara diangsur setiap bulan yang dimulai pada bulan ke-2, dengan cara sbb :
Besarnya nilai Investasi
_____________________
Masa kontrak kerjasama
Contoh : Rp. 5,000,000
______________ = Rp. 208,334/bulan
2 tahun (24 bln)
Jadi, jika nilai pinjaman modal/investasi sebesar Rp. 5,000,000 dengan masa kontrak kerjaama 2tahun maka pengembalian pinjaman modal/investasi adalah sebesar Rp. 208,334/bulan yang akan dibayarkan mulai bulan ke-2 setelah kontrak kerjasama ditandatangani.
XII. PERHITUNGAN PERIODIK
A. BIAYA INVESTASI
Pembelian bibit itik 1,000 ekkor @ Rp. 43,000/ekor Rp. 43,000,000
Kandang dan sarana Rp. 7,000,000
Pakan sebelum bertelur (1 bulan) @ Rp. 350,000/hari Rp. 10,500,000 +
TOTAL Rp. 65,500,000
B. BIAYA OPERASIONAL 1 BULAN
Pakan 1,000 ekor x 30 x Rp. 3,500 Rp. 10,500,000
Obat-obatan 1% dari Pakan Rp. 105,000
Tenaga Kerja 4 orang :
Gaji @ Rp. 25,000/bulan x 4 Rp. 100,000
Uang makan @ Rp. 5,000 x 4 Rp. 20,000
Penyusutan kandang dan sarana (masa pakai 2 tahun saja) Rp. 291,700
5
Penyusutan itik (masa pakai 1 tahun saja) Rp. 3,583,350
Resiko Kematian 5% per tahun Rp. 71,700 +
TOTAL BIAYA Rp. 14,671,750
C. PENERIMAAN 1 BULAN
Penghasilan telur rata-rata 70% x 950 ekor x 30 x Rp. 1,000 Rp. 19,950,000
D. KEUNTUNGAN DALAM 1 BULAN (RATA – RATA)
Keuntungan dapat dihitung dengan cara mengurangi antara omset (penerimaan) satu bulan dengan biaya operasional selama 1 bulan juga.
Dari angka-angka diatas, keuntungan yang dapat diasumsikan sebesar :
Rp. 19,950,000 - Rp. 14,671,750 = Rp. 5,278,250
Maka, jika nilai investasi anda sebesar Rp. 5,000,000, sehingga akan diperoleh bagi hasil dengan perhitungan sbb :
Rp. 5,278,250 x 2,5% = Rp. 131,957/bulan
Jika diakumulasikan dengan pengembalian angsuran untuk modal yang telah di investasikan, maka uang yang akan anda peroleh adalah :
besarnya angsuran tiap bulan + bagi hasil = Rp. 208,334 + Rp. 131,957
TOTAL = Rp. 340,291/bulan
XIII. SEKRETARIAT KAMPOENG TERNAK
Sekretariat Jakarta :
C.P. Ika Dewi R
Director of PT. SEIKO PRATAMA MANDIRI / KAMPOENG TERNAK
IS PLAZA Building lt. 7 # 706
Jl. Pramuka Raya Kav. 51, Jakarta
Telp : 021 – 8561727, fax : 021-8561727 ext.81
Hp. 0817776491 (sms or call)
Sekretariat Yogyakarta
Dsn. Potrobayan RT 01, RW 41
Kel. Srihardono, Kec. Pundong
Kab. Bantul, D.I. Yogyakarta
C.P. Ismanto
XIV. PENUTUP
Demikianlah, proposal penawaran kerjasama ini. Lebih dan kurangnya akan diperbaiki bersama sesuai kesepakatan dan perkembangan yang ada. Semoga bermanfaat.
FORMULIR PENDAFTARAN
Dengan ini saya:
Nama : ……………………………………………………………………………………………..
Alamat : ……………………………………………………………………………………………..
………………………………………….…………………………………………………..
Lembaga/Instansi : ……………………………………………………………………………………………..
Jabatan : ……………………………………………………………………………………………..
Alamat Lembaga : ……………………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………………..
Telepon Rumah : ……………………………………………………………………………………………..
6
Telepon Kantor : ……………………………………………………………………………………………..
HP : ……………………………………………………………………………………………..
e-mail : ……………………………………………………………………………………………..
Menyatakan tertarik dan bersedia bergabung untuk berinvestasi dengan menanamkan modal pada usaha peternakan di KAMPOENG TERNAK.
Pembayaran akan saya lakukan pada tanggal : ………………………......................
dan dapat diambil di:
Alamat :......................................................................................................
Waktu :.....................................................................................................
Kontak person
: ....................................................................................................
Atau melalui pembayaran transfer langsung kerekening BSM Cab 115, kantor kas Bendungan Hilir, Rek No. 115.7011.835 a.n. Ika Dewi Rahayu.
Jakarta, …………………………2008 Menyetujui:
Hormat Saya, General Manager Kampoeng Ternak
( ) ( )
Catatan : *) Coret yang tidak perlu 7
----- 

Penetas Telur Sederhana

.
Penetas telur ini pernah saya buat sekitar 18 tahun yg lalu. Dengan modal sepasang ayam kampung (1 jago dan 1 betina), dalam jangka waktu 2 bulan jumlah ayam menjadi 40 ekor. Jumlah akan semakin berlipat bila anak ayam betina sudah dapat bertelur juga (usia 6-7 bln). Bisa dibayangkan, dalam jangka waktu 6 bulan jumlahnya bisa menjadi ratusan (dengan asumsi menghasilkan minimal 20 telur/ bulan). Rata2 ayam kampung menghasilkan 8-14 butir per musim bertelur.
Triknya adalah telur2nya kita tetaskan sendiri, sehingga sang induk, setelah istirahat seminggu, kita kawinkan kembali, akan bertelur lagi. Sedikit banyaknya ayam yg dihasilkan tergantung dari jumlah telur yg dihasilkan sang induk.
Harus diingat bahwa telur yang tidak dibuahi oleh sang jago tidak akan menghasilkan apa2. Walaupun betinanya adalah petelur, tapi bertelurnya karena hasil rangsangan makanannya. Entah kalau anda adalah ahli rekayasa genetik, itu lain soal.
Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah ketekunan dan keikhlasan anda membolak balikkan telur 4, 6, atau 8 jam sekali selama 21 hari. Bila tidak sanggup, lebih baik jangan dilakukan.

Bahan inkubator:
- Triplex 6mm uk P: 40 cm L:30 T: 35 cm (ukuran tidak mutlak, atau menurut selera).
- Fitting lampu, bohlam 40w [atau menggunakan beberapa untai lampu natal (20 lampu di seri/untai, karena bohlammya 12v)]. Yang penting dapat memanaskan box hingga 37°C .
- Elektrik minifan ex komputer, trafo 9-12vct 0.5A, 2 bh diode in4001. Gunanya untuk meratakan sirkulasi panas didalam box. Bila dg 12v terlalu kencang, pakailah yg 9v.
- Busa/spon, atau bahan yg mencegah panas keluar dari box
- Termometer ruangan. Harganya sekitar Rp 15.000 an (dahulu, entah sekarang)
- Sterofoam (tempat telur) tebal 10mm. Lubangi ¼ dari diameter telur, yang penting telur dpt berdiri tegak. Banyaknya lubang terserah anda, tapi minimal tersedia 15 lubang.
- wadah air. Bisa kaleng atau ex botol plastik air mineral atau mangkuk kecil. Agar udara selalu lembab.
- Solder (untuk membentuk lubang tempat telur berdiri). Atau kalau rajin boleh pakai cutter.
- Lem aibon. Gunanya untuk merekatkan busa/spon kedinding dalam box.


- Bila mulai bertelur, jangan diambil dulu. Biarkan sampai si betina terbiasa dengan tempat eramannya. Setelah terdapat beberapa telur ambillah, tapi sisakan satu atau dua butir, agar si betina tidak bingung. Khusus untuk betina yang baru pertama kali bertelur, telur perdananya (disebut juga sebagai telur ayam dara, cirinya masih terdapat darah) lebih baik untuk dikonsumsi saja (atau dijual lebih mahal dari yang lain, karena (katanya) banyak khasiatnya. Entah untuk panglaris, tolak bala, atau pengobatan). Bila sudah tidak lagi bertelur barulah ambil semuanya.
- Sebelum telur dimasukkan kedalam inkubator bersihkan terlebih dahulu dari kotoran2 dengan menggunakan lap yang dibasahi air hangat.
- Pastikan suhu inkubator stabil pada 36°-38°C (usahakan di 37°) berapapun banyaknya telur yang ada. Jika lebih maka bukalah (dengan menggeser) ventilasi yang ada diatas box sampai suhu kembali stabil.
- Balikkan telur 180 derajat setiap 6 atau 8 atau 12 jam sekali. Lakukan hingga mendekati menetas (antara 19 s/d 21 hari).
- Air yang ada didalam fungsinya untuk melembabkan. Pastikan selalu terisi.
- Cek kondisi telur dengan meneropongnya diatas lampu senter/bohlam 5w. Bila sampai 7 hari telur tidak ada titik hitam yang bergerak, maka telur ini gagal. Singkirkan saja. Titik hitam ini adalah embrionya. Makin lama makin membesar, bergerak kesana kemari. Bila anda tertarik dengan apa yang terjadi pada proses sebuah kelahiran, maka ini adalah cara mudah untuk mengetahui tahapan2 bagaimana sebuah makhluk tercipta. Luar biasa!! Oleh sebab itu ingatlah selalu asal manusia itu darimana (dari setetes air, lalu menjadi segumpal darah, lalu tumbuh tulang belulang, hingga akhirnya menjadi sempurna). Jangan mentang2 sudah berhasil/sukses/berkuasa lalu menjadi lupa diri.
- Bila ada yang menetas, pindahkan ke kandang yang terpisah, agar telur yang ada tidak menjadi mainannya (alias dipatuki). Adakalanya anak ayam kesulitan memecahkan kulit telurnya (mungkin sungsang kalau diibaratkan manusia), maka tugas andalah membantu memecahkan cangkangnya sedikit demi sedikit (jangan sekaligus supaya anak ayam tidak shock).
-Anak ayam yang sudah menetas dan terpisah dikandang tersendiri secara naluri akan berperilaku seperti ayam pada umumnya, yaitu mematuk-matuk. Maka sediakanlah makanannya; bisa diwadah atau disebar disekitarnya. Jangan lupa juga untuk disediakan wadah air minum. Pada saat ini adalah baik bila dibuatkan kandang khusus anak ayam.
- Bila PLN mati, maka gunakanlah lampu minyak (lampu teplok), tempatkan sedemikian rupa sehingga panasnya (bukan asapnya!) dapat mengalir kedalam box.
. 
Bahan Membuat Kandang Ayam Dewasa:
Beberapa batang kayu reng 3×4.
Beberapa batang bambu, dibelah menjadi beberapa bilah (minimal 8 bilah).
Paku.
.

Rangka dibuat dari kayu reng. Ukuran kandangnya relatif, tetapi biasanya disesuaikan dengan besar dan tinggi sang jago, juga keleluasaan sewaktu sang jago berusaha mengawini sang betina (misal P:60 L:50 T:50). Sedangkan dinding dan lantainya merupakan belahan dari batang bambu. Untuk dinding (kiri-kanan-belakang) dan lantai jarak antar bambu kira2 seukuran ibujari. Sedangkan dinding depan seukuran tiga jari atau kepala sang jago dapat keluar bebas. Wadah makanan sebaiknya taruh diluar, agar tidak dapat dikais-kais. Lantai dapat dibuat rata atau landai kedepan.

Ruang khusus bertelur.

Pintu masuk untuk bertelur usahakan hanya muat untuk si betina keluar masuk saja. Tempat bertelurnya bisa rata atau lebih tinggi dari lantai. Lapisi bagian bawah ruang bersalin telurnya dengan jerami atau tumpukan koran bekas atau sobekan2 kain. Tutup tempat bertelur dari penglihatan si jago. Anda bisa pula mengintip bagaimana proses keluarnya telur dari dalam tubuh si betina. Sama seperti proses keluarnya anak manusia dari ibunya. Saya sebagai laki2 tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya. Pasti sakit luar biasa dan amat sangat melelahkan! Oleh sebab itu hargailah, hormatilah dan lindungilah kaum hawa, karena dari merekalah umat manusia terlahir. Tidak akan ada Nabi, atau Raja, atau Presiden, atau Ulama, atau para cerdik pandai, bila tidak ada wanita.
Untuk atap bisa menggunakan seng atau terpal plastik.
Bersihkan kandang tiap pagi dan sore dari kotoran2nya dengan semprotan air. Bila anda mempunyai kolam ikan, maka tempatkan kandang diatasnya. Kotoran ayam bisa menjadi pakan ikan. Kalau tidak ada maka tempatkan kandang diatas saluran air/got yang mengalir. Sebab kalau tidak mengalir maka akan timbul bau, akibatnya tetangga pasti banyak yang protes. Belum lagi penyakit yang lainnya. Kalau tidak, bisa juga kotoran ayam dimasukkan/dialirkan kedalam septic tank.

Kandang Bayi


Ukuran kandang tidak mutlak. Semakin banyak bayi ayam tentunya semakin besar kandangnya. Beri lampu pijar didalam 10-15W. Bila terlalu besar wattnya dikhawatirkan bayi terlalu kepanasan. Lubang didepan berukuran 2cm diselingi 1cm; asalkan hanya kepala si bayi saja yang dapat keluar sudah cukup.

Foto Inkubator: (update 26-7-09)



Foto-foto diatas belum dicoba untuk menetaskan, karena baru dibuat.  Bila induk sudah bisa dipisahkan dari anaknya (yang semata wayang) dan bersedia dikawinkan kembali, paling tidak baru satu bulan lagi dapat dipost. Harap maklum dan mohon sabar.
- Ukuran juga tidak mutlak. Patokannya adalah tinggi lampu+fitting+5 cm+tinggi telur: untuk bagian telur. Untuk bagian wadah air sekitar 7-10 cm juga cukup, dan tidak harus berada dibawah telur. Bisa saja ditaruh dibagian samping telur.
- Lampu dipakai dua buah tujuannya sekadar untuk memudahkan mengatur suhu; misalnya kombinasi 25w-25w, atau 25w-15w, atau 40w-15w, dst. Saklar untuk menghidupkan/mematikan salah satu lampu bila suhu meningkat. Bila tidak menginginkan memakai lampu minyak (sebagai backup bila PLN padam) bisa saja bagian itu dihilangkan. Atau dipakai sebagai tambahan wadah telur.
- Pintu2 diberi kaca/mika agar mudah melihat apa yang terjadi didalam. Bila tidak ada kaca/mika boleh saja memakai plastik yang agak tebal.
- Sebagai pengganti engsel pintu dipergunakan potongan ban bekas (biasanya juga ada di toko material, +/- Rp 2.000,-. Murah meriah dibandingkan engsel yang Rp 15rb).
- Lubang corong lampu minyak, bila tidak dipakai, tutup saja agar panas tidak keluar. Atau disekat dibagian dalam, yang bisa dilepas tentunya, bila lampu minyak akan dipergunakan. Lampu minyak pergunakan yang berukuran sedang (karena di pasar ada 3 ukuran).
- Termometer bisa digeletakan atau digantung, terserah anda. Yang penting mudah dilihat dan dipantau.
Selamat berkreasi.
.
(Update 21/08/09) hari ke 1:

Inkub ini tanpa tempat untuk menaruh lampu minyak. Telur yang dapat dimasukkan hingga 40 butir. Jarak ujung lampu dengan ujung telur sekitar 10 cm, agar telur yang berada tepat dibawah lampu tidak mendapatkan panas yang berlebih. Lampu ada 3 buah; tengah 25w,  samping 15w dan 10w. Semua lampu dicat warna coklat supaya tidak terlalu terang. Maklum mata seusia saya tidaklah sesehat sewaktu muda. Fan ditempatkan ditengah. Bila malam, apalagi hujan, maka digunakan kombinasi 25w+15w, ventilasi terbuka 1/4. Bila siang dengan kombinasi 25w+10w,  ventilasi dibuka penuh. Ukuran lubang vent 5X8 cm, lebih besar lebih baik. Bila ventilasi sudah terbuka penuh suhu masih belum juga turun maka mau tidak mau pintu depan dibuka. Seberapa lebar dibukanya tidak dapat ditentukan, tergantung suhu tempat tinggal/daerah tsb. Tetap harus berexperimen untuk mendapatkan suhu yang tetap/konstan.
<(18/12/10). Dengan dimensi box diatas ternyata cukup menggunakan 3 buah lampu 5W, dengan suhu 37,8° C. Jadi tidak perlu lagi kombinasi dengan watt yang lain>
Sebenarnya anak yang semata wayang si betina masih kecil, 1,5 bulan. Mungkin karena salah membeli pakannya, si betina tiba-tiba ingin bertelur (bisa diketahui bila dia gelisah, ber koook kok kok kok kok berkepanjangan -bukan berkokok seperti jago- itulah tanda si betina mau bertelur. Karena tempat ‘bersalinnya’ ada di kandang jago maka terpaksa dipindahkan. Dan akhirnya keterusan! Sampai dengan hari ini baru bertelur 5 butir; yang pertama sebenarnya tidak dibuahi tapi tetap saja saya masukkan, yang lainnya hasil perkawinan. Informasi lebih lanjut menyusul.
(28/08/09) hari ke 7:

Telur yang tidak dibuahi tidak terdapat tanda2 kehidupan akhirnya dibuang. Sedangkan yang lainnya (dari 11, 4 butir pertama) sudah ada bintik hitam yang bergerak-gerak. Semakin lama semakin besar dan mulai tampak urat2 disekeliling cangkang. Air ditambah setiap 2-3 hari sekali.
(2/09/09) hari ke 12:
Kemarin sempat mati lampu dari malam hingga tadi subuh, akibatnya telur tidak sempat dibalik. Dan karena boxnya tidak dirancang untuk menggunakan lampu teplok maka selama 8 jam suhu drop ke 30°C.  Dari pagi hingga sore telur2 tidak saya teropong, tunggu hingga malam agar lebih jelas. Dan, syukur alhamdulillah, dari 16 telur, 12 telur masih hidup, sisanya belum kelihatan bintik hitamnya karena belum mencapai 6 hari. Tiap telur ditandai berdasarkan tanggal, cukup dengan pinsil saja. Telur2 yang sudah 12 hari bintik hitamnya sudah 1/2 menutupi cangkang, jadi agak sukar menentukan apakah hidup atau mati kalau tidak diamati dengan seksama.
(4/09/09) hari ke 14:

Sampai hari ini jumlah telur sudah 18 butir; 16 di inkub, 2 masih di kandang jaga2 siapa tahu betinanya sudah mau mengeram. Ternyata belum. Sungguh, ini dari satu induk!
(8/09/09) hari ke 18:

Alhamdulillah, akhirnya si betina mulai mengeram juga setelah bertelur dengan total 22 butir. Yang pertama disingkirkan karena tidak dibuahi, yang 19 di inkub, dan yang 2 didalam kandang.
Sengaja disisakan agar: pertama mengetahui kapan betina berhenti bertelur/mulai mengeram, dan kedua agar si betina dapat beristirahat. Saya berencana mengistirahatkannya kurang lebih 10-14 hari. Sesudah itu telur2 yang ada akan saya pindahkan kedalam inkub. Dengan demikian diharapkan betina dapat mulai lagi ‘berproduksi’, tentu setelah dimandikan.
Karena sudah masuk hari ke 18, maka 4 telur awal (foto terdepan) sudah tidak lagi di bolak balik. Posisi telur yang agak bulat lonjong diatas (bila diteropong ada putih kosong, itulah yang diatas) . Karena berdasarkan pengalaman, mulai dipatok oleh anak ayam dari dalam disekitar ujung yang lonjong. Mudah2 an dua-tiga hari kedepan sudah mulai menetas. Lampu sudah mulai diganti dengan kombinasi 25+5 untuk siang, dan 25+10 bila malam. Hal ini disebabkan karena telur sudah ada isinya, yang karena hidup pasti mengeluarkan panas.
Mohon maaf atas ketidak jelasan foto2nya, karena saya menggunakan camera Moto E398 (yang diupgrade menjadi Rokr E1) jadul.
Ternyata siang hari, si betina masih bertelur satu, jadi totalnya ada 22 butir. Maka di inkub ada 20 butir, sisanya dikandang untuk dierami. Sungguh saya sangat beruntung mempunyai ayam betina yang ‘subur’. Namun biasanya produksi telur akan menurun seiring bertambahnya usia.
(11/09/09) hari ke 21:

Hari ini sudah 5 ekor yang berhasil menetas, ada satu lagi yang mulai pecah. Sebenarnya kemarin (H 20) ada dua yang mulai pecah, namun proses menetasnya dari pagi hingga sore baru tuntas. Bayangkan saja, makhluk sekecil itu selama berjam-jam mematuki cangkang, dari satu titik hingga sekelilingnya, lalu dengan sekuat tenaga keluar. Makan waktu satu hari! Ada lagi yang dari pagi, baru malamnya keluar. Itupun karena dibantu dipecahkan cangkangnya sedikit demi sedikit oleh ‘bidan’ (yaitu saya sendiri). Yang lama adalah ‘mendobrak’ kulit arinya. Tipis tapi liat! Kalau manusia mungkin disebut plasenta (?). Sungguh sangat melelahkan karena harus bolak balik mengecek sudah sampai dimana pecahnya.
Karena inkub banyak lubangnya, takut kejeblos walaupun sudah dialasi kain, maka begitu sudah keluar langsung dipindahkan ke kandang bayi, yang sebelumnya sudah dialasi lembaran kardus dan kain perca. Lampu memakai 25w. Bila semua telur sudah memetas maka tuntas sudah artikel ini, sebagai bukti bahwa penetas telur ini benar adanya, bukan karangan, atau sekadar hasil adopsi artikel orang lain atau hasil terjemahan.
Selanjutnya akan dibuat halaman baru penetas telur dengan pengatur suhu otomatis. Komponen elektroniknya murah dan mudah, sesuai dengan motto: sederhana yang penting berguna.
Semoga bermanfaat dan selamat berkreasi.
.
(23/09/09)
Semua telur sudah menetas. Dari 22 butir, 4 mengalami cacat kaki. Sedih juga melihatnya. Tapi apa daya, tidak bisa berbuat apa2.
(25/10/09)

Inilah anak2 ayam setelah berumur 1 bulanan. Dari 22 ekor, ada 5 jago. Lumayan. . .
.
14/01/10
Pemanas darurat bila PLN mati:


Bila listrik PLN mati maka gunakanlah lampu teplok/minyak. Bila minyak tanah susah, solar bisa saja dipakai. Atau mungkin minyak goreng bekas? Tapi bila takut kebakaran maka mau tak mau menggunakan lampu dashboard/panel motor, atau lampu sein motor. Keduanya 12v5w. Harganya Rp 1000 – 2000/bh. Accu motor 5A sekitar Rp 150rb, mobil 40A Rp 500rb. Lampu panel ini berukuran kecil, berwarna warni, putih, hijau, oranye dan merah. Ada juga yang paling kecil, tapi jangan dibeli.
saya uji dengan lampu panel, pada box ukuran 25x25x20 cm (PxLxT), diperlukan 11 lampu agar suhu tetap di 37°. Lampu2 tsb disambung secara paralel mengelilingi box. Karena soket lampunya mahal (4rb/bh) terpaksa saya solder dengan kawat tembaga. Maka 11x5w= 55w. Dengan accu 5A (= 60w) hanya sanggup bertahan 1 jam saja. Bila (punya) dengan accu 40A (= 480w) tentu lebih lama, sekitar 8 jam. Hanya, itu tadi, harga accunya! Bila menggunakan lampu minyak bisa bertahan sekitar 5 jam (hanya 0.5 l minyak, seharga 4500). Bila boxnya lebih besar, maka lampunya juga harus lebih banyak. Diperlukan experimen. Mana yang anda pilih, silakan hitung2an.
.
(28/03/10) Powersupply untuk fan:

.
(26/04/10) Inkub kardus: Murah meriah.

Ukuran kardus terserah. Bagian sisi2 (kiri-kanan-blkg) pertebal, bisa dg potongan kardus atau foam/busa.  Bagian bawah bisa dg tumpukan kain2 perca-koran2-foam/busa-potongan kardus. Lubangi sisi kanan-kiri sedikit diatas telur 2-3 lubang sebesar kelingking sebagai lubang udara.  Buat jendela dg ditutup plastik bening- diatas atau didepan- untuk memonitor suhu.
Perhatikan jarak lampu dg telur jgn terlalu dekat, minimal sekitar 10 cm. Kalau bisa tetap pasang fan ex PS komputer dibelakang agar panasnya merata. Bila perlu, buat lubang ventilasi yang bisa buka-tutup agar suhu bisa dikontrol. Jangan pula lupa untuk menyediakan wadah air (potongan botol plastik mineral, dsb) agar telur tidak kering. Wadah air ini tentu saja diisi dengan air biasa, bukan teh atau kopi. He he he. . .  (intermezzo).
Posisi telur tergeletak. Agar mudah dikenali, buat tanda/garis memanjang di ½ bagian telur dg pinsil. Bila posisi telur ingin berdiri, terpaksa pakai foam tebal/triplex dilubangi seperti contoh inkub kayu diatas.
.
Model thermometer lainnya:


.
(16/11/10) Lamp Dimmer.
Alat yang berfungsi mengatur terang redupnya lampu. Berarti sama juga dengan mengatur watt sehingga tidak perlu lagi kombinasi lampu2. Misal lampu 100w ingin dijadikan 40w-60w maka dengan hanya memutar potensiometer dapat dilakukan.
.
(18/12/10) Mengenai lampu sebagai pemanas.
Setelah dilakukan ujicoba ternyata dengan ukuran inkub di (21/08/09) banyaknya lampu pijar cukup 3X5W = 15W untuk mencapai suhu 37.5°C. Ini diuji pada malam hari dimana voltase pada 170-180 volt. Harga lampu 5W @Rp 1.250-1500. Murah meriah!
.
(2/01/11) Contoh inkub dengan lampu minyak.

.
Update (7/7/11)
 
Dimensi P: 60 L: 60 T: 20.   Kayu triplex 8mm.   Kapasitas: 100 butir.
Jumlah lampu 6 buah @5W (hadap bawah. Kalau hadap samping jika putus mendadak suka korslet!) suhu maxnya 41°C (dengan/tanpa fan). Penempatan lampu agak didepan agar panas seimbang. Jika lampu menyebar maka panas didepan lebih rendah daripada dibelakang; depan 35°C belakang 41°C.
Jika hanya 5 buah lampu maka suhu pas pada 37°C. Jika dilapisi bagian dalam inkub pasti lebih baik lagi.
(12/07/11)

Gambar diatas adalah posisi lampu2 yang saya pakai. Semuanya menggunakan lampu 5W (dan tetap harus menggunakan fan agar panas bisa tersebar rata). Salah satunya menggunakan dimmer agar pengaturan suhu menjadi lebih mudah. Dimmer dirakit sendiri; kalau beli jadi voltnya drop bila masuk sore (ketika banyak pemakaian diseluruh kampung) sehingga lampu lebih redup ketimbang siang. Maklumlah, PLN kita super canggih. . . .
.
Untuk pengatur suhu otomatisnya lihat disini atau disini.
.
Tips membuat inkubator:
JIKA SEBUTIR TELUR MEMBUTUHKAN SUHU 37° C AGAR BISA MENETAS, BERAPAKAH SUHUNYA JIKA ADA 500 BUTIR TELUR?
.

Rancangan inkub (hanya garis besarnya) dapat diunduh di sini.

-----

Penetas Telur Otomatis

BILA SEBUTIR TELUR MEMBUTUHKAN SUHU 37° C AGAR DAPAT MENETAS, BERAPAKAH SUHU YANG DIPERLUKAN JIKA ADA 2000 TELUR? APAKAH 2000 x 37°? ATAUKAH TETAP SAJA PADA 37°C?

.
Halaman ini mengenai penetas telur dengan alat kontrol suhu otomatis.
Namun demikian alat ini bisa saja dimanfaatkan untuk aplikasi yang lain selama masih ada hubungan dengan suhu (panas) udara. Misal untuk inkubator bayi, penghangat ruangan, dsb.
.
Komponen utama (lihat di diagramnya masing2): thermistor, resistor, ic, diode, trimpot, relay, led, pcb.
Komponen tambahan: fan untuk harddisk (kecil tapi kencang; sebelah kiri dari gambar paling kanan dibawah. Yang besar untuk sirkulasi udara didalam inkub), power supply/adaptor.

Komponen paling utamanya adalah thermistor, barang langka yang tidak setiap toko elektronik menyediakannya. Hal ini terjadi karena thermistor ini amat sangat jarang dibeli! Sesuai dengan hukum dagang: barang yang lakulah yang banyak. Di kota saya, Bogor, setiap toko elektronik yang saya ketahui tidak sedia. Searching di Internet, cari toko elektronik online juga tidak sedia. Selain thermistor, ic LM339 dan LM311 juga tidak ada (kecuali LM741 banyak, karena umumnya dipakai sebagai preamp/tone control)! Yah mau tidak mau harus ke Jakarta!
Harganya lumayan, @ Rp. 17.500 ( belum termasuk ongkos pulang-pergi), yang setelah “diubek-ubek” hanya ada 2 toko di Glodok yang menyediakannya (dari beberapa puluh toko komponen elektronik disana!). Itupun tidak sedia banyak, hanya beberapa buah! Toko OK Elektronik, toko yang sudah puluhan tahun disana, hanya punya thermistor 10K @ Rp 25.000, padahal saya perlu yang ukuran 20K atau 50K (10K terlalu sensitif)! Jadi memang thermistor ini benar-benar komponen yang amat sangat langka dan juga mahal!! (17.500 + 50.000 (ongkos) = 67.500). Namun karena butuh, apa boleh buat. . . . .
Dibawah ini ada 4 buah rangkaian elektronik, yang komponen2 nya mudah didapat (selain thermistor tentunya). Dari yang paling mudah hingga yang agak “ramai”; semuanya sudah saya coba dan hasilnya adalah:
1.

Ini adalah rangkaian yang paling sederhana dengan hanya 3 komponen: thermistor, mosfet (IRF510/IRF630) dan 10K potensiometer. Hasilnya: bila melebihi suhu yang diinginkan maka fan akan menyala. Pengaturan suhu hanya dengan memutar POT kekiri atau kekanan. Biaya sekitar 30 ribuan (tidak termasuk PS+fan). Lebih cocok untuk mendinginkan power amplifier.
2.


Relay akan hidup bila suhu melebihi yang diinginkan. Relay ini  dihubungkan ke fan juga, agar udara didalam disedot keluar sehingga suhu turun. Biaya sekitar 50 ribuan (tidak termasuk PS+fan).
Box yang dipergunakan masih yang lama. Fan ditempatkan di lubang ventilasi, sehingga tidak perlu lagi buka-tutup. Ketika suhu mencapai 38° C relay hidup dan fanpun hidup. Lamanya relay (fan) hidup diatur di VR2 (hysteresis= perbandingan suhu tertinggi dengan terendah. Perbedaan hanya berkisar 0.5°-1°). VR1 mengatur tinggi rendahnya suhu yang ingin dicapai. Setelah menggunakan rangkaian ini saya sudah tidak perlu lagi hidup-matikan lampu tambahan. Dengan lampu 30w (25+5) siang hari, ventilasi tertutup, suhu tetap konstan di 37.8° C (100° F). Bolak balik telur hanya 2x, pagi dan malam. Kalau dengan 25w saja suhu hanya 36° C. Bila malam, apalagi habis turun hujan,  lampu 35w (25+5+5). Bila kelupaan mematikan salah satunya ketika sudah siang, suhu tetap saja konstan, hanya relay jadi sering cetak-cetok (on-off maksudnya). Ah sabodo teh teuing. . .
3.

Gambar pertamalah yang dicoba. Relay tetap hidup ketika suhu rendah, dan mati bila suhu melebihi titik yang diinginkan. Juga dihubungkan ke fan. Dua diagram dibawah setelah dites tidak bagus. Biaya idem. Rangkaian ini kebalikannya dari rangkaian yang menggunakan LM741.
4.


Karena ic LP 339 tidak ada maka diganti dengan LM 339.
Bila diinginkan rangkaian ini sebenarnya bisa menjadi empat (4) rangkaian sensor suhu hanya dengan satu IC! Coba saja perhatikan diagramnya.
Relay selalu hidup ketika suhu rendah, dan mati ketika suhu tinggi. Karena relay selalu on maka pada relay disambungkan ke 16 resistornya yang berfungsi sebagai pemanas. Jadi ketika suhu sudah melebihi yang diinginkan maka relay menjadi mati dan pemanasnya juga mati. Bila ternyata 16 resistor masih kurang, boleh ditambah sampai tercapai suhu yang diinginkan. Biaya sekitar 70 ribuan.
5. (25/06/11)

Kalau yang diatas tidak pakai transistor maupun relay, tapi diganti dengan optoisolator (MOC 3021). Ketika suhu normal lampu (L) tetap menyala, tapi ketika suhu meningkat lampu padam. Kelebihan alat ini adalah tidak berisik alias cetak-cetok (suara relay yang on-off). Kekurangannya adalah MOCnya tidak umum jadi jarang tersedia di toko elektronik; dan mudah rusak.
.
Semua rangkaian/skema diatas (LM 741, LM 311,  LM 339) menggunakan arus 12VDC, cocok untuk daerah yang belum dialiri listrik, atau yang dayanya kecil (450w). Cukup dengan accu maka inkubator bisa dijalankan. Namun karena keterbatasan maka disarankan menggunakan minimal 2 buah accu; satu dipakai, yang lain dicharge. Lebih baik lagi bila accunya berkapasitas 40A atau lebih.
Power Supply:

Trafo 1A, bridge rectifier, 2200µf/16v, ic 7812, 100µf/16v. Biaya sekitar 20 ribuan. Output powersupply ini selalu stabil di 12vDC sehingga komponen tidak cepat rusak. Bisa saja menggunakan adaptor yang sudah jadi (lebih murah) tapi umumnya tidak pernah stabil, selalu lebih dari yang dibutuhkan. Misal diset di 12v hasilnya bisa 14v-16v!
Ralat: Trafo sebaiknya yang 0-15v 1A. Ini dikarenakan voltase  listrik bila masuk sore hari (dimana ribuan rumah2 sudah menghidupkan lampu2) hanya sekitar 170-180v (bukan 220vac). Bila menggunakan yang 12v maka outputnya hanya sekitar 10vdc, dan berakibat relay tidak bekerja. Bila yang 15v maka outputnya sekitar 11.6vdc, cukup untuk menghidupkan relaynya.
.
Bagi yang menginginkan alat ini dapat saja saya buatkan, tapi belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Belum tahu berapa total biayanya bila ‘terima jadi’ (komponen kontrol+PS+fan+ongkos kirim+ongkos kerja). Maklum, harus kerja ditempat lain. Atau mungkin mau merakit sendiri dengan komponen yang sudah komplit bisa juga (PS+fan termasuk). Pengiriman via kantor pos atau jasa pengiriman lainnya. Mohon sabar.
.
27/12/09
Sudah terkumpul komponen thermostat LM741 untuk 20 unit, tapi tanpa relay. Kalau hanya untuk menghidupkan fan cukup dengan transistor saja. Baru 4 unit yang jadi, semuanya sudah di set pada 37.8°C (100°F). Walaupun demikian tetap harus diset ulang disetiap box yang berbeda demi kepastian. Trimpotnya (VR3 menurut diagram) harus diputar secara perlahan-lahan karena sangat sensitif; kekiri agar kurang dari 37, kekanan agar lebih dari 37. VR1 tidak perlu diubah. VR2 kalau ingin fan lebih  lama nyalanya putar ke kanan.


Thermometer yang dipergunakan:

Yang bulat kecil harganya Rp 55rb di toko teknik yang menjual aneka perkakas/pertukangan. Terpaksa beli karena lebih akurat dan sensitif  (kalau yang kayu Rp 15rb ada di toko buku atau Gramedia. Maaf, tidak ada maksud promosi). Thermometer inilah yang dipakai untuk men-set thermostatnya. Sedangkan thermometer kayu tetap didalam box sebagai pembanding. Thermometer paling kanan (panjangnya hanya 9cm) sebenarnya untuk mengetahui suhu freezer (-30°), tapi ternyata bisa sampai +50° C, jadi bisa dipakai.
(13/10/11)

Thermometer digital ini lumayan mahal padahal ukurannya hanya 5,5X4,5 cm. Menggunakan baterai jam tangan, mungkin sekitar 6 bulanan daya hidupnya, dan bisa dimatikan jika tidak diperlukan. Bisa dalam satuan Celcius maupun Fahrenheit. Karena sensornya ada kabelnya maka bisa ditempatkan diluar inkub.
.
Cara menggunakan:
Tempatkan alat diatas box. Masukkan thermistor kedalam (misalnya dengan dilubangi didekat alatnya) hingga diatas telur. Jangan dekat lampu! Tempatkan fannya diatas atau disamping box, dengan arah angin keluar. Jangan di lubang ventilasi, karena tetap harus bisa buka-tutup (alasannya ada dibawah). Sambungkan power supply 12vdcnya tapi jangan dulu dihidupkan.
Hidupkanlah lampu2 pemanas box selama -/+ 1 jam. Lebih bagus bila dilakukan pada malam hari, karena suhu lebih dingin dibanding siang. Perhatikan suhunya;  atur lubang ventilasi agar suhu stabil (seolah-olah tidak punya alat ini). Memang agak memakan waktu, tetapi percayalah, demi pengawetan alat. Setelah yakin suhu stabil maka barulah dinyalakan alat ini. Bila suhu melebihi settingan maka otomatis akan menghidupkan fannya sehingga udara panas yang berlebih akan tersedot keluar dan suhu kembali normal. Bila alat ini tidak menyala maka suhunya pas atau sedikit dibawah settingannya. Yang penting adalah sewaktu mengatur lubang ventilasi (hal yang prioritas utama untuk dilakukan) suhu terlihat pada 37°-37,8° C (98°-100° F). Lebih bagus lagi jika didalam box ada fan (fan ex power supply PC, lebih besar dari fan ex harddisk diatas) juga, yang berfungsi menyebarkan panas kesekeliling dalam box, sehingga setiap sudut box mendapatkan panas yang sama.
Jika sudah masuk siang, pasti suhu inkub  akan meningkat. Biarkan lubang vent tetap seperti diatas. Sekarang perhatikanlah thermometernya. Bila sudah mencapai 38°C alat masih belum menyala, putarlah VR3 (lih gambar) kekiri, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya fan hidup. Istilahnya diputar sepersekian mili demi sepersekian mili, karena amat sangat sensitif. Jangan diputar mengikuti hawa nafsu, karena tidak akan pas. Lalu biarkan hingga fannya mati sendiri. Perhatikan kembali thermometernya, bila pada suhu yang diinginkan masih juga belum menyala maka putar kembali VR3nya seperti diatas. Demikian diulangi hingga alat benar2 berfungsi sesuai suhu yang diinginkan. Demikian sebaliknya bila fan sudah hidup dibawah/pas  37°; putar VR kekanan perlahan hingga fan mati. Perhatikan kembali suhu; masih juga menyala dibawah suhu yang diinginkan, putar kembali VR kekanan hingga fan mati. Ulangi sampai benar2 pas atau kurang kebihlah. Memang agak repot/mengesalkan, tapi tidak akan sia-sia karena menyangkut nyawa, bukan? Maka sekarang suhu secara otomatis akan stabil (khususnya pada siang hari, ketika ditinggal pergi/kerja) walaupun lubang vent tidak diutak-atik. Namun demikian tetap saja suhu harus selalu diperhatikan sesekali. Namanya buatan manusia, tidak ada yang abadi. Jangan lupa untuk selalu membolak balikan telur minimal 2x/hari selama 18 hari. Juga jangan lupa untuk selalu ada air didalam agar ada kelembaban. Bila tidak ada kelembaban maka kulit telur akan kering dan berakibat janinnya mati.
Dengan mengatur suhu via lubang vent sebelumnya, alat ini tidak akan sering on/off sewaktu suhu meningkat pada siang hari. Berbeda bila lubang vent ditutup/dipakai untuk menempatkan fan, maka alat ini akan bekerja extra berat, karena sering on/off dalam selang waktu yang teramat singkat, sehingga dapat mengurangi daya tahannya alias cepat rusak. Rugi bukan?
.
14/01/10
Pemanas darurat:

Bila susah menggunakan lampu minyak, karena minyak tanah sudah langka, maka terpaksa menggunakan lampu dashboard/panel atau sein motor. Keduanya berkekuatan 12v/5w, seharga Rp 1000 – 2000/bh.
Saya uji di box 25x25x20 cm (PxLxT) memerlukan lampu panel sebanyak 11 buah yang terhubung secara paralel- dipasang sekeliling box- agar suhu tetap di 37° (Paralel= + dg +, – dg -. Kalau seri= + – + -). Karena soket (tempat lampu) lampunya mahal (4500/bh) maka saya sambung dengan disolder menggunakan kawat tembaga. Dengan accu motor 5A (seharga 145rb), hanya bertahan 1 jam saja (5Ax12= 60w. Lampu 11×5= 55w. Maka 60/55=1)! Bila menggunakan accu mobil (40A seharga 450rb) bisa bertahan hingga 8 jam. Semakin besar boxnya semakin banyak lampunya. Diperlukan experimen berapa banyak lampu sesuai dengan box yang anda design. Lampu panel ini beraneka warna, putih, hijau, oranye dan merah.  Ada juga yang berukuran lebih kecil, jangan dipakai karena terlalu mini. Bila menggunakan lampu minyak yang berukuran sedang, bisa tahan lebih dari 5 jam dengan biaya sekitar Rp 5000/½lt (malah kurang dari itu) minyak tanah, dengan asumsi harga minyak tanah 10rb/lt. Mana yang anda pilih, tergantung kebutuhan/kemampuan.
.
Gambar inkub (22/03/10):

Ukuran tidak mutlak, tergantung berapa kapasitas telurnya. Lubang vent (gb.3 warna violet, sebelah atas fan mini) min 5×10 cm.
.

+ relay sambung ke C tr. Karena fungsinya untuk menghidupkan fan maka kaki 2 sambung ke +VDC, dan kaki 1 ke + fan.
.
Alternatif lain pengganti thermistor adalah ic LM35. Ic inipun sebenarnya tidak umum, alias barang langka. Begitu pula dg TL431 (voltage reference). Namun ini sebagai tambahan pengetahuan saja, siapa tahu didaerah anda tersedia komponen2 intinya (LM358, LM35 danTL431).
Kekurangan rangkaian ini adalah sensornya tidak dapat mendeteksi suhu udara.
LM35 dan LM358 dapat diperoleh disini secara online. TL431 saya belum menemukan.
.
(20/06/10) Rangkaian dalam box triplex.

Didalam box ini sudah termasuk rangkaian thermostat- adaptor- fan. Lampu led menyala menandakan alat hidup. Untuk menyetel suhu cukup memutar potensiometer yang ada didepan box. Sudah diset paling rendah 37.3°C, kalau paling tinggi belum diuji, paling2 sekitar 45°C. Fan ditempelkan (dg lem aibon atau disekrup) di inkub, setelah dibuatkan lubang sebesar fannya saja. Posisi fan tidak mutlak diatas, bisa disamping. Foto hanya sbg gambaran sj. Sedang mencari box yang lebih bagus dan ringan.

.

22/07/10


Akhirnya dapat juga box yang sesuai. Led merah sebagai tanda alat hidup, led hijau sebagai tanda suhu diatas setelan dan mulai menghidupkan fannya. Menyetel suhu dilakukan dengan memutar potensiometer. Minifan bisa ditempatkan disamping, diatas, atau dibelakang inkub. Lubang vent wajib ada agar udara didalam box dpt tersedot dg mudah.
(14/09/11) Model thermostat:
 

Alat ini terdiri dari dua bagian: komponen elektronik/thermostat + box, dan bagian power supply.

Komponen jika tidak dimasukkan kedalam box maka ketika pengiriman sering rusak tertindih.
Dimensi: P: 12cm, L: 9cm, T: 6cm. Berat totalnya hanya 800 gr.
Harga lihat disini:
Thermostat ini tidak lagi menggunakan fanmini untuk membuang kelebihan panas inkub tetapi dihubungkan ke lampu/heater inkubnya. Dengan mematikan lampu/heater ketika suhu melebihi dari settingan maka secara alami akan mengurangi panas yang dihasilkan lampu/heaternya.
Minifan, thermometer, dan tentu saja ongkos kirim tidak termasuk.
Pengiriman via Tiki/JNE atau jasa pengiriman lainnya, tergantung kota dengan  kodeposnya.
.
Beberapa skenario Rangkaian LM741 lihat disini.
Sumber listrik terminal memang sengaja terpisah dari alat-sensor, untuk mencegah kerusakan pada alat-sensor jika terjadi hubungan pendek pada terminal. Terminal ini dapat langsung terhubung ke lampu2 inkub dan langsung hidup jika sumber listrik terminal ini terhubung ke PLN/baterai tanpa alat-sensor terhubung ke PLN. Mengapa demikian? Karena berfungsi sebagai saklar: tetap ON ketika suhu normal, dan OFF jika suhu meningkat. Kekuatan terminal ini 2A, atau setara 500w. Biasakan menggunakan sekring (fuse) agar terminal aman dari kerusakan.
.
(16/11/10) Dimmer:
Bermanfaat untuk mengatur panas lampu (terang ke redup) sesuai keinginan sehingga tidak perlu repot dengan kombinasi. Cukup satu lampu- misal 100w- dengan memutar potensiometer untuk menjadikannya 40w-60w. Gambar rangkaiannya lihat disini.
.

Untuk info lebih lanjut rangkaian diatas kirim email ke: onthet@gmail.com

Atau sms ke 0857 1455 1167.

.
Rancangan inkubator  dan lainnya silakan unduh disini .
-----


Penetas Telur Otomatis 2

.
Beberapa skenario relay menggunakan rangkaian LM741.

Kiri: relay standar. Tengah: lampu/heater on-off, bukan fanmini. Kanan: Sumber listrik darurat thermostat. Khusus untuk Tengah dan Kanan harus menggunakan relay yang heavyduty.

Relay ini punya empat terminal. Satu disambung ke fanmini (jika perlu), yang tiga ke lampu-lampu. Ketika suhu rendah/stabil lampu-lampu tetap menyala sedangkan fan mati. Ketika suhu diatas settingan maka lampu-lampu padam sedangkan fan menyala.

Bisa juga terminal lampu-lampu menjadi 2 terminal sebagai lampu-lampu utama sedangkan yang satu dijadikan sekadar penerang sementara inkub (fan ikut on) ketika lampu-lampu utama padam. Ketika suhu kembali normal/low maka lampu-lampu utama hidup kembali sedangkan lampu penerang sementara+fan mati.

Atau kombinasi fan-dimmer-lampu2. Semua lampu2nya akan mati bila suhu diatas settingan, kecuali fan yang hidup. Maksudnya low-off / hi-on adalah untuk relay. Relay tetap mati (off) bila suhu masih sekitar settingan, dan baru hidup (on) jika suhu lebih.
.
Lamp Dimmer:

Komponen: Triac Q4004LT (max 60w)/Q4004L4 (max 100w), DIAC DB3, Resistor 10K, Capasitor 100n/400v, Trimpot/Potensiometer 500K.
Alat ini untuk mengurangi kekuatan cahaya lampu dengan mengurangi voltnya, maka dengan demikian mengurangi pula panasnya. Bermanfaat bila susah untuk mengatur suhu inkub. Kekuatan bebannya antara 60w-100w, bila lebih maka alat akan panas. Biayanya berkisar Rp. 36ribuan.
Misal lampu yang dibutuhkan 50w. Yang ada dipasaran 5w, 10w, 15w, 25w, 40w, 60w, 75w, dan 100w.  Bila dengan 25w maka harus tambah 25w; dg 40w maka harus tambah 10w; bila 60w maka terlalu panas. Untuk itu digunakanlah dimmer ini. Pakai lampu yg 60w, lalu putar potensiometernya agar terangnya berkurang, dan itu berarti sama dengan mengurangi panasnya, sehingga tidak perlu lagi tambahan lampu2 yang lain. Namun dari hasil ujicoba, dengan beberapa lampu 5W cukup memadai. Pada inkub (21/08/09) halaman Penetas telur sederhana dengan 3X5W sudah mencapai suhu 37.8°C.  Jadi tidak perlu kombinasi dengan watt lainnya.
(23/6/11)
Selain sebagai dimmer ternyata dapat pula dipakai sebagai motor controller untuk motor listrik AC.
.
Motor Controller.
Berguna untuk mengatur kecepatan putar motor DC. Tujuannya untuk dapat membolak-balikan telur. Apakah wadah telurnya yang berputar atau telur2 nya saja yang berputar/menggelinding, masih dirancang.

Ini adalah rangkaian pengatur putaran motor bolak-balik (kekiri atau kekanan) yang paling sederhana, hanya dengan memutar potensiometer. Powersupplynya menggunakan trafo 12vCT agar outputnya menjadi +/-/0 vDC. Jika hanya butuh putaran motor yg umum (searah jarum jam) maka cukup menggunakan satu transistor BD139 saja dan powersupply +12/0 vDC. Agar mampu menanggung beban  amper motor lebih besar ganti transistor dg type yg lebih kuat.

 Yang ini lumayan banyak komponen tetapi hasilnya juga cukup memadai. Putaran motor bisa sampai lambat.
.
Timer.
1.
Berguna untuk mengatur waktu motor controller hidup/mati. Misal tiap 6 jam menghidupkan motornya. Ada juga yang mengusulkan dengan memakai jam bekker (jam dengan alarm).
2.

Rangkaian diatas adalah yang paling sederhana dan mudah didapat yaitu dengan menggunakan dua buah LM/NE 555. R1+C1 (TIMER1) menentukan lamanya hidup dalam jam; Pot+C2 (TIMER2) menentukan lamanya motor hidup dalam detik yang dapat diatur. Ketika waktu hidup TIMER1 sudah selesai maka otomatis akan menghidupkan TIMER2 nya, demikian seterusnya. R1: antara 1M-13M O, C1:  antara 1000-3300 µF/16v, C2: antara 10-47 µF/16v.
Model telur berputar:

Ini berputar keliling, jadi mudah memasang motornya.

Ini bergerak kekiri dan kekanan dengan sudut 15°. Mengatur motornya yang agak repot. Seberapa cepat motor berputar dan berapa lama waktunya agar pas pada sudut yang diinginkan.
.
Thermostat standar:Harga
 
Sensor ini tidak lagi menggunakan fan untuk membuang kelebihan panas inkub tetapi dengan mematikan lampu/heater inkub.
Thermostat-timer (2in1): Harga
 
Rancangan thermo-timer-mtr cntrllr (3in1): Harga

Rancangan thermo-timer-mtr cntrllr-dimmer (4in1):

Gambaran thermostat-timer-motor controller-dimmer dalam satu box.
 
Pada rancangan ini terdapat dua motor controller; satu untuk motor 12VDC, dan satu lagi untuk motor AC kecil (diatur oleh dimmer, dibuktikan dengan menguji fan AC mini kotak. Kemungkinan bisa dipakai sebagai motor bolbal telur jika anda kreatif).

Gabungan tiga rangkaian: Thermostat-Timer-PWM.
Software: Eagle PCBmaker.
Lumayan pusing. . . . .
.
Halaman ini masih belum selesai. Masih mencari motor 12VDC yang murah tapi handal. Jika motor DC mahal maka ada kemungkinan untuk menggunakan motor kipas angin AC portabel mini. Pengontrol cepat-lambat untuk motor AC ini bisa menggunakan lamp dimmer.
Mohon sabar.
.
Berbagi files mengenai inkubator telur dll silakan unduh disini.
.
Bila membutuhkan alat elektronik tersebut diatas ( tidak membuat inkub karena jauh lebih mahal ketimbang anda membuatnya sendiri) silakan hubungi di:
Email: onthet@gmail.com
HP: 0857 1455 1167 .
-----

ANALISIS USAHA PENETASAN TELUR


Usaha penetasan telur itik atau bebek merupakan kegiatan yang sudah dilakukan peternak sejak bertahun-tahun. Akan tetapi pola penetasan petani masih menggunakan cara alami dengan memanfaatkan ayam atau entok sebagai sarana penetasan. Metode penetasan telur itik yang lebih modern menggunakan Mesin Tetas telur itik atau bebek dengan berbagai macam model. Peluang usaha di bidang penetasan telur itik cukup terbuka. Itik atau bebek merupakan hewan unggas yang sudah cukup populer di masyarakat kita. Tidak hanya telur asin saja yang dapat dibuat dari telur itik, ada banyak aneka makanan yang dibuat dengan bahan dasar telur itik. Selain telur itik yang dimanfaatkan sebagai aneka makanan, daging itik juga cukup banyak digemari oleh masyarakat. Diantara makanan dari daging itik adalah bebek goreng, bebek bakar, rica-rica bebek kremes dan lain sebagainya. Dengandemikian peluang usaha dari unggas  ini cukup  terbuka lebar bagi pengusaha yang berminat menggelutinya. Tidak hanya dari sektor pengolahan hasil ternakan itik saja tetapi juga dari bisnis-bisnis lainnya, diantaranya penyediaan bibit itik yang berkualitas. Penyediaan bibit itik dapat dilakukan dengan cara konvensional melalui pengeraman  indukan ayam dan penetasan telur itik dengan mesin tetas telur. Untuk skala besar dan tujuan bisnis tentu tidak mungkin kita menggunakan ayam sebagai alat penetas telur. Maka peluang Usaha Penetasan Telur Itik dengan menggunakan Mesin Penetas merupakan alternatif yang akan dibahas.

Usaha bisnis penetasan telur itik sebenarnya cukup memiliki potensi mendatangkan keuntungan. Selain manajemen produksi yang baik diperlukan pula manajemen penetasan berdasarkan kualitas hasil tetasan yang baik.Peluang bisnis penetasan telur itik ini dapat dilakukan pada skala rumah tangga dan kelompok usaha kecil dan menengah (UKM). Karena proses dan perlengkapan yang cukup sederhana. Selain itu harga mesin penetas telur itik juga cukup terjangkau ada yang berharga murah dan ada yang berharga cukup mahal, tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan saja. Mengenai ragam mesin  penetas telur dapat dilihat pada tulisan ini. Gambaran potensi peluang usaha ini dapat dilihat dari harga DOD ( Day Old Duck) betina biasanya dihargai sampai lima kali harga telur. Sedangkan untuk DOD jantan dihargai sama atau maksimal dua kali harga telur yang belum menetas. Tingkat daya tetas menggunakan mesin tetas memang lebih rendah jika dibandingkan dengan cara alami dengan indukan ayam. Pengeraman dengan ayam daya tetas bisa mencapai 90 s/d 100%, sedangkan dengan mesin tetas daya tetas berkisar 75% sampai dengan 90%, tergantung berbagai macam faktor. Jumlah telur itik yang menetas juga masih perlu diseleksi jenis kelamin jantan dan betinanya. Sulit memprediksikan jenis kelamin telur yang menetas kadang lebih banyak betina , kadang lebih banyak jantan dan kadang sama. Untuk lebih mudahnya karena peluang jantan dan betina sama maka diasumsikan DOD yang dihasilkan pada model penetasan telur itik dengan mesin penetas ini adalah Jantan : Betina 50:50. Peluang 50:50 ini tidak ada perbedaan antara penetasan telur dengan cara alami dengan penetasan telur dengan mesin penetas, peluangnya sama saja.

Persiapan Usaha Penetasan Telur Itik

1. Persiapan Tempat
Salah satu faktor yang mendukung keberhasilan usaha penetasan telur itik mengunakan mesin penetas adalah faktor tempat. Tempat untuk penempatan mesin tetas diusahakan tidak terkena matahari secara langsung dan tidak terkena angin secara langsung. Hal ini untuk menghindari perubahan suhu yang cukup ekstrim, yang berkakibat kurang baiknya daya tetas telur. Pastikan tempat dan mesin tetas dalam kondisi yang higienis dan steril dari kuman dan bakteri. Kuman dan bakteri akan mengganggu daya tetas telur. Biasanya sebelum telur-telur itik dimasukkan ke dalam mesin penetas, lingkungan dan mesin tetas disemprot terlebih dahulu menggunakan disinfectan. Penyemprotan mengunakan disinfectan  pada tempat dan mesin penetas membuat bakteri dan kuman-kuman mati, sehingga aman bagi kelangsungan hidup embrio itik dalam telur.
2. Persiapan mesin Tetas
Selain faktor tempat , Kualitas mesin penetas memiliki peranan yang cukup penting dalam kesuksesan usaha penetasan telur itik ini. Mesin penetas diupayakan memiliki lingkungan dan kondisi yang mirip dengan induk ayam/entok, suhu, kelembaban dan lain-lain. Pastikan mesin tetas yang dipilih berkualitas bagus, rapat tetapi cukup memiliki ventilasi udara yang baik. Pastikan juga mesin tetas beroperasi dengan baik, misalnya suhu ruangan bisa mencapai sudu ideal 37-38 derajat C, dan memiliki termostat sebagai pengatur suhu. Meski pada rentang suhu 36 s/d 42 derajat C telur bisa menetas tetapi suhu optimal diupayakan pada 38-39 derajat C. Biasanya pada mesin penetas telur yang dibeli sudah dilengkapi dengan termometer ruang, untuk memonitor suhu dalam ruangan mesin penetas.
Kelembaban udara yang diukur dengan Hygrometer didalam ruang mesin penetas (incubator)  haruslah dijaga pada kisaran 55-60% untuk 18 hari pertama di incubator dan lebih tinggi setelah itu. Mesin Penetas yang baik dan berharga mahal  biasanya dilengkapi dengan Hygrometer ini, namun jika tidak tersedia bisa dibeli sendiri.
3. Pemilihan Telur sebagai Bibit
Dalam manajemen Usaha Penetasan telur itik pemilihan telur sangat menentukan daya tetas telur itik. Telur itik dipilih dari indukan yang tidak terkalu muda dan tidak terlalu tua, dengan rasio Jantan:Betina 1:5 sampai dengan 1:8. Cangkang telur dipilih yang tidak terlalu tebal karena akan sulit untuk pecah saat akan menetas. Cangkang yang terlalu tipis juga tidak layak untuk dipilih. Pilih telur yang oval tetapi jangan terlalu lonjong atau bulat.

Proses Penetasan Telur Itik

1. Pemasukan Telur
Pemasukan Telur ke dalam mesin tetas hendaknya dilakukan pada saat mesin tetas benar-benar siap untuk dipergunakan, antara lain suhu sudah sesuai dengan standard, kelembapan udara juga demikian. Sebelum dimasukkan kedalam mesin penetas telur dicuci dengan air hangat suam-suam kuku, agar kotoran dan bakteri yang menempel pada telur hilang. Selain itu telur yang bersih memudahkan kita mengamati perkembangan anakan itik dalam telur. Selama 3 hari pertama telur kita diamkan dalam mesin penetas dan tidak usah dibuka. Letakkan bagian yang runcing di bagian bawah, bagian yang mengandung rongga udara di posisi atas, jika di dalam  mesin penetas tidak terdapat tatakan telur, bisa dibuat sekat-sekat dengan kayu atau bilah bambu agar telur tidak menggelinding dan mudah diatur dalam mesin penetas. Jika telur mudah bergerak dan menggelinding bebas di dalam mesin penetas, akan sulit dikontrol telur yang sudah dibalik atau belum.
2. Pengeraman Telur
Setelah 3 hari biasanya sudah bisa kita lihat telur-telur yang memiliki benih atau tidak. Telur yang tidak memiliki benih itik biasanya karena tidak dibuahi oleh itik jantan. Telur yang tidak dibuahi tidak akan menetas sehingga perlu kita afkir untuk dikonsumsi dan masih bisa dijual atau dijadikan makanan. Telur yang Memasuki hari keempat sampai hari ke 25 , telur itik sudah harus kita bolak-balik sehari 2 sampai 6 kali, frekuansi pemutaran telur akan berpengaruh pada daya tetas telur. Semakin sering akan semakin baik. Pada hari keempat tersebut telur perlu diangin-anginkan dengan cara membuka tutup mesin penetas selama kurang lebih 10 sampai dengan 15 menit. Proses mengangin-anginkan telur ini perlu dilakukan seriap 3 sampai 4 hari sekali sampai hari ke 25. Dalam masa pengeraman ini yang perlu diperhatikan selain suhu dijaga supaya tetap konstan adalah kelembapan udara. Jika kelembapan dirasa kurang bisa ditambahkan dengan menyemprotkan air hangat ke telur-telur. Untuk memudahkan mengontrol telur sudah dibalik atau belum, beri tanda dengan spidol pada tiap-tiap sisi telur, misalnya sisi bawah diberi tanda A sisi atas diberi tanda B.
3. Masa Menetas
Telur itik akan mulai pecah sedikit demi sedikit, pada hari ke 26 sudah mulai terdengar suara dan cangkang yang terbuka pada bagian paruhnya. Pada hari ke 28 telur dalam mesin penetas yang normal sudah akan menetas semuanya.  Perlu dicermati, jika ada telur yang susa pecah, perlu dibantu mengelupas dengan tangan tetapi harus hati-hati. Biasanya karena cangkang terlalu tebal. Anakan itik yang sudah menetas perlu segera dipindahkan ke tempat lain yang suhunya hampir sama dengan suhu ruang penetasan. Bersihkan ruang mesin  penetas dari cangkang dan kotoran-kotoran lainnya agar tidak menggangu telur yang belum menetas.
4. Seleksi DOD
Anakan itik yang berusia 1 sampai 4 hari lebih mudah dibedakan jenis kelaminnya dibandingkan dengan anakan itik berusia satu minggu. Warna itik betina lebih terang dan bersih, sedangkan itik jantan lebih gelap. Jika diperhatikan suara anak itik betina lebih melengking. Cara lain adalah dengan melihat melalui anus dengan cara menekannya, meski cara ini cukup membuat itik tersiksa tapi cukup efektif. Itik jantan terlihat memiliki alat kelamin yang menonjol. Untuk membedakan anakan itik jantan dan betina bisa dilihat dari warna paruhnya. Itik Jantan cenderung lebih berwarna gelap sedang itik betina berwarna terang.

Analisa Bisnis

Meskipun ini adalah hitung-hitungan kasar tetapi bisa dipergunakan untuk menganalisa gambaran usaha penetasan telur itik ini. Diasumsikan kita akan menetaskan telur itik sejumlah 100 butir. Telur itik akan menetas dalam waktu 28 hari.
Biaya Yang dikeluarkan:
  • 100 butir telur                  @Rp 1000 = Rp 100.000
  • Listrik 28 Hari                                         = Ro 15.000
  • Operasional                                               = Rp 15.000
  • Total Pengeluaran                                   = Rp 130.000
Hasil Yang diperoleh:
DOD Menetas diasumsikan 75% atau 75 ekor anakan itik (DOD) dari 75 ekor tersebut 38 Betina dan 37 Jantan.
  • 38 ekor DOD Betina                     @Rp 5000 = Rp 190.000
  • 37 ekor DOD Jantan                     @Rp 1500 = Rp 55.500
  • Total hasil                                                                = Rp 245.500
Keuntungan yang diperoleh dari 100 butir telur itik selama sebulan Rp 245.500 – 130.000 = Rp 115.500. Jika jumlah telur yang dierami 1000 butir keuntungan yang bisa diperoleh juga 10 kali lipat dari itu yaitu Rp 1.115.500. Selamat Mencoba.(Galeriukm)
-----


Teknik Penetasan Telur Yang Baik



Pemilihan Telur Bebek
Sebenarnya untuk usaha DOD/penetasan telur bebek menjadi meri lebih baik memiliki indukan sendiri, karena kita akan tahu riwayat hidup indukan dan telur. Karena jika hanya membeli dari luar, kita tidak tahu apakah yang kita beli telur yang bagus atau tidak, jadi harus memilih telur dahulu.
Bebek yang siap bertelur berumur 4-5 bulan. Jenis bebek yang di Cirebon, yakni bebek Rambon bisa bagus diternakkan dimana saja, baik dengan digembalakan, maupun dikandang. Ini karena bebek Rambon kakinya lebih panjang dari bebek Mojosari, sehingga larinya lebih lincah dan cepat. Selain itu bebek Rambon memiliki leher yang lebih panjang dari bebek Mojosari.
Untuk menghasilkan telur yang fertile, tentunya indukan betina harus dikawinkan dengan indukan jantan dengan perbandingan 1:10 (1 jantan mengawini 10 betina). Setiap harinya bebek bisa bertelur 1 butir. Sebenarnya ada cara untuk memperbesar ukuran telur, yakni dengan menggunakan zat pemacu berupa Ena Egg berbentuk butiran yang dicampur bersamaan dengan pakan. Namun perlakuan tersebut membuat bebek kelelehan untuk memproduksi telur, yakni yang biasanya bisa sampai 2 tahun memproduksi, namun setelah menggunakan zat tersebut hanya sampai 1,5 tahun, karena dubur atau kloakanya cepat rusak.
Alat Penetas
Usaha bebek sebelum tahun 70-an belum terorganisir dengan baik. Barulah setelah tahun 70-an dan dibuatnya alat penetasan telur, usaha bebek lebih terorganisir, walaupun untuk penggunaan alat baru dilakukan oleh 1-2 orang. Penetasan telur umumnya pada saat itu masih menggunakan bantuan entok, karena bebek tidak mau mengerami telurnya. Alat penetasan telur/incubator tersebut dinamakan “lemari odel Akhyar”, karena memang yang pertama kali menciptakan alat tersebut adalah Akhyar, seorang penduduk desa Kroya Cirebon yang kini telah lama meninggal dunia.
Dalam usaha penetasan telur, penggunaan lemari Akhyar tersebut tidak serta merta membuat telur lebih cepat menetas, namun hanya membantu kemudahan dan kepraktisan sehingga lebih ekonomis. Proses penetasan tetap memakan waktu selama 28 hari, layaknya pengeraman dengan bantuan entok. Cara ini terbilang lebih ekonomis , karenapenetasan meri tidak perlu memilki entok untuk mengerami yang pastinya membutuhkan lahan yang cukup luas. Selain bisa dilakukan diruang terbatas, denganpenggunaan alat tersebut membuat usaha ini tidak menghasilkan limbah apapun.
Lemari model Akhyar juga bisa dibuat sendiri oleh penetas meri, karena bahan dan modelnya sangat sederhana. Lemari tersebut terbuat dari bahan kayu dan triplek. Modelnya seperti lemari pakaian biasa ukuran 1 x 1 x 2 m, dengan beberapa susunan sekat/rak dari triplek beralas Koran, memiliki kaca dibagian depan agar bisa terus dipantau keadaan telurnya. Dalam 1 lemari 6 rak mampu menampung 800 butir telur bebek.
Proses Penetasan Meri
Pada proses penetasan saat ini masih dilakukan dalam 2 cara, yakni penggunaan alat yang pemanasnya dari lampu minyak dan pemanas dari listrik/kumparan/lampu. Kedua cara tersebut memilki kelebihan dan kekurangan. Misalnya pemanas dengan listrik/kumparan memilki kelebihan, yakni tidak mengeluarkan asap hitam sehingga alat tetap bersih. Karena tergantung listrik, jadi jika terjadi mati lamapu maka bisa menganggu penetasan. Sedangkan dengan cara sederhana, yakni dengan lampu minyak memang akan mengeluarkan sedikit asap hitam, namun tidak terganggu jika terjadi mati lampu.
Pada rak tingkat pertama yang berda 50 cm dari dasar lantai, terdapat wadah berbentuk Loyang kotak kue dari kaleng sebagai wadah air. Dan ruang kosong paling bawah jarak 50 cm dari dasar lantai ditempatkan sebuah lampu minyak untuk menjaga suhu agar tetap stabil di 100F dan menjaga kelembaban dengan terciptanya uap air dari air yang dipanaskan. Karena penetasan membutuhkan uap panas lembab, bukan panas kering. Pemanasan dengan lampu minyak memang yang paling cocok, karena harus dilakukan terus sampai telur menetas. Jika menggunaka lampu listrik, tidak baik karena suka berbahaya jika sedang mati lampu sehingga pembentukan meri menjadi tidak sempurna. Hal tersebut menyebabkan bentuk tubuh meri tidak sempurna.
Dengan kapasitas lemari Akhyar 800 butir telur bebek, penetas bisa mendapat untung bersih sampai Rp.400 ribu samapi menetas. Karena biaya hanya untuk bahan bakar minyak sekitar 10 liter selama 28 hari. Biaya produksi terbilang cukup sedikit karena tidak perlu pakan dan tempat yang luas.
Menurut Prof. Dr. Penny S. Hardjosworo, Praktisi Perunggasan IPB, keberhasilan penetasan telur bebek menjadi meri umumnya hanya 50%, namun jika ada yang mencapai 70-80% itu sudah sangat bagus, karena cangkang telur bebek sangat tebal sehingga memakan waktu lama dan lebih sulit dari penetasan ayam.
Untuk sentra penetasan meri di desa Kroya Cirebon, selama ini 60% telur lebih banyak dibeli dari luar, daerah seperti Indramayu, Subang, dan Brebes. Telur yang tidak fertile biasanya masuk ke dalam usaha pengasinan telur.
Untuk membedakan meri jantan dan betina, meri yang jantan pada duburnya terdapat tonjolan, sedangkan yang betina tidak. Selain itu bulu meri jantan lebih kasar dari betina. Meri yang baru menetas, bisa diberi vaksin Vitachick agar tahan penyakit, namun bisa pula tidak diberi vaksin, karena menurut Prof. Dr. Penny S. Hardjosworo, meri labih tahan penyakit daripada anak ayam.
Pakan untuk meri yang baru menetas biasanya berupa pakan pabrik, yakni Kopan/Phokphand 5-11, barulah umur 1 minggu bisa diberi menir (pecahan beras) kukus dan kangkung. Untuk pencegahan penyakit juga bisa diberikan rajangan daun mengkudu sebulan sekali.
Meri yang baru menetas biasanya hanya ditempatkan di keranjang dari kawat ram ukuran 1 x 2 m, yang dilapisi kain. Dan bila akan dibawa dalam perjalanan meri tak perlu diberi perlakuan apapun, cukup ditempatkan pada box kardus ukuran 25 x 25 cm atau tas rinjing biasa.
-----


Cara Penetasan Telur Itik

Banyaknya pertanyaan yang masuk kepada kami tentang tata cara penetasan telur itik. Hal inilah yang menjadi motivasi kami untuk menuliskan tata cara penetasan telur itik walaupun hanya sebatas kemampuan dan pengalaman kami dalam bidang tersebut. Sebenarnya tata cara penetasan telur itik hampir sama dengan tata cara penetasan telur ayam. Perbedaan yang mencolok hanyalah  masalah waktu atau lama hari penetasan. Telur itik membutuhkan waktu sekitar 28 hari sedangkan telur ayam hanya butuh waktu sekitar 21 hari.Berikut akan kami sajikan pengetahuan kami perihal tata cara penetasan telur itik meskipun kami bukanlah yang terbaik dalam hal ini. Mudah-mudahan yang kami berikan ini membawa manfaat bagi kita semua. Aamiin.Persiapan telur
Memilih atau menyeleksi telur tetas sesuai dengan kriteria telur tetas yang baik
Telur yang kulitnya terlalu kotor perlu dibersihkan, akan tetapi perlu ke hati-hatian dalam membersihkan kulit telur jangan sampai lapisan kulit ikut hilang
Pisahkan telur retak, kerabang tebal/tipis
Persiapan mesin tetas
Fumigasi mesin tetas telah dilakukan satu hari sebelum mesin dipakai meskipun mesin tersebut baru dibeli
Hubungkan mesin tetas dengan catu daya listrik dan tunggu sampai suhu mencapai kestabilan pada suhu 37-38°C. Pemanasan mesin tetas dilakukan minimal 3 jam sebelum telur dimasukkan ke dalam mesin tetas
Cek dengan seksama cara kerja thermostat, pitingan lampu dan yang lainnya
Sediakan cadangan bola lampu (dop) atau lampu templok (minyak tanah)
Setelah segala sesuatunya telah siap maka saatlah kita masuk ke tahap proses penetasan telur yang sebenarnya.  Adapun urutan kerja selama proses penetasan telur itik adalah sebagai berikut :
Hari ke-1
Masukkan telur ke dalam mesin tetas dengan posisi miring atau tegak (bagian tumpul di atas). Telur bisa langsung begitu saja dimasukkan ke dalam mesin atau melalui proses prewarming terlebih dahulu yaitu dibilas secra merata dengan air hangat.
Ventilasi ditutup rapat
Kontrol suhu (38°C)
Hari ke-2
Ventilasi dibiarkan tertutup sampai hari ke-3
Kontrol suhu (38°C)
Hari ke-3
Pembalikan telur harian bisa dimulai pada hari ini atau masuk hari hari ke-4. Disarankan pembalikan telur minimal 3x dalam sehari-semalam (jika memungkinkan dipakai rentang waktu setiap 8 jam. Misalkan pagi pukul 05.00, siang pukul 13.00, dan malam pukul 21.00.
Bersamaan dengan itu bisa dilakukan peneropongan telur kalau sudah memungkinkan karena ketelitian seseorang berbeda-beda. Telur yang berembrio ditandakan dengan bintik hitam seperti mata yang ikut bergoyang ketika telur digerakkan dan disekitarnya ada serabut-serabut kecil. Kalau telur tidak menandakan tersebut dikeluarkan saja dam masih layak untuk dikonsumsi. Peneropongan telur dilaukan ditempat yang gelap argar bayangan telur nampak lebih jelas.
Kontrol suhu (38°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.
Hari ke-4
Pembalikan telur harian sesuai jadwal hari ke-3
Lubang ventilasi mulai dibuka ¼ bagian
Kontrol suhu (38°C)
Hari ke-5
Pembalikan telur harian
Ventilasi dibuka ½ bagian
Kontrol suhu (38°C)
Hari ke-6
Pembalikan telur harian
Ventilasi dibuka ¾ bagian
Kontrol suhu (38°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.
Hari ke-7
Pembalikan telur harian
Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui perkembangan embrio (hidup atau mati). Embrio mati mati ditandakan dengan bercak darah atau lapisan darah pada salah satu sisi kerabang telur sedang embrio yang berkembang serabut yang menyerupai sarang laba-laba semakin jelas
Ventilasi dibuka seluruhnya
Hari ke-8 sampai ke-13
Pembalikan telur harian
Kontrol suhu (38°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.
Hari ke-14
Pembalikan telur harian
Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui embrio yang tetap hidup atau sudah mati. Telr fertile membentuk gambaran mulai gelap dengan rongga udara yang terlihat jelas
Hari ke 15 sampai ke-20
Pembalikan telur harian
Kontrol suhu dinaikkan sedikit (38,5-39°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.
Hari ke-21
Pembalikan telur harian
Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui embrio yang tetap hidup dan mati. Embrio mati ditandakan dengan bocornya lapisan rongga udara sehingga telur terlihat hitam semua
Kontrol suhu (38,5-39°C) dan tambahkan air ke dalam bak
Hari ke-22 sampai ke-25
Pembalikan telur harian
Kontrol suhu (38,5-39°C) dan tambahkan air ke dalam bak
Hari ke-26 sampai ke-27
Pembalikan telur dihentikan
Kontrol kelembaban, lakukan penyemprotan jika diperlukan (dengan semburan yang paling halus)
Biasanya ada telur yang sudah mulai menetas di malam hari
Hari ke-28
Telur-telur sudah banyak yang menetas
Keluarkan cangkang telur dari rak agar space atau ruangan lebih longgar
Keluarkan anak itik yang baru menetas setelah bulunya setengah kering atau kering seluruhnya
Proses menetas biasanya berlangsung hingga hari ke-29
Dan setelah semuanya selesai mesin tetas bisa dibersihkan dan difumigasi kembali untuk persiapan proses penetasan berikutnya.
Catatan tambahan : hendaklah melakukan pendinginan telur minimal 2 kali sehari karena kalau melihat prilaku unggas yang mengerami telurnya maka dia akan meninggalkan telur untuk berenang beberapa saat kemudian masuk ke tempat pengeraman kembali dan begitu seterusnya dan kalau diperhatikan hal tersebut kadang dilakukan setiap hari. Semoga bermanfaat.*(SPt)
Anda dapat mengcopy artikel ini sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumbernya : www.sentralternak.com

-----


DOC (Day Old Chick) adalah anak ayam umur sehari. Baik ayam kampung maupun ayam negeri (ayam ras pedaging=broiler dan ayam ras petelur=layer). Sementara DOD (Day Old Duck) adalah anak itik umur sehari. Baik itik pedaging (itik peking) maupun itik petelur (itik alabio, tegal, mojosari dan lain-lain). Produksi DOD itik petelur, juga akan menghasilkan itik jantan yang akan digemukkan menjadi itik pedaging. Baik DOC maupun DOD, merupakan komoditas penting dalam agroindustri daging dan telur. Karenanya, agroindustri DOC dan DOD menggunakan mesin tetas juga berkembang cukup pesat di Indonesia.
Ada beberapa mesin tetas yang bisa dipergunakan untuk memproduksi DOC dan DOD. Pertama mesin tetas sederhana. Ujudnya hanyalah kotak segi empat dari kayu atau triplek. Di dalamnya ada sekat horisontal untuk menaruh rak telur berupa bingkai kayu dengan kawat kasa. Di bawah rak telur ini ada nampan untuk tempat air. Pemanas mesin tetas sederhana bisa berupa lampu minyak, lampu pijar (bohlam) atau kawat nikelin. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan lampu minyak adalah, bisa digunakan apabila lokasi tersebut belum ada aliran listrik.
Lampu pijar dan kawat nikelin lebih praktis digunakan, namun apabila aliran listrik sering mati akan merepotkan. Kecuali ada cadangan generator. Padahal apabila mesin tetas mati dalam jangka waktu semalam lebih, maka telur tetas akan mengalami kerusakan. Kelebihan lampu minyak adalah, tidak akan terganggu oleh putusnya aliran listrik PLN. Kelebihan lampu pijar adalah, putusnya (matinya) selalu bergantian satu per satu, akan langsung kelihatan dan dengan mudah segera bisa diganti satu persatu. Namun biaya lampu pijar lebih boros dibanding kawat nikelin.
Kawat nikelin lebih hemat karena bisa bertanan bertahun-tahun dan tidak perlu ganti-ganti bohlam. Arus listriknya juga lebih hemat. Kelemahannya pada waktu memasukkan dan mengeluarkan serta membalik-balik telur, kita harus hati-hati karena kalau menyentuh kawat nikelin akan terkena aliran listrik. Kalau kawat nikelin rusak juga harus dibongkar total dan diganti. Harga kawat nikelin juga cukup mahal. Namun untuk perhitungan jangka panjang, mesin tetas sederhana dengan kawat nikelin jauh lebih hemat dibanding dengan lampu minyak dan bohlam.
Peralatan paling penting pada mesin tetas adalah thermostat. Thermostat paling sederhana berupa spiral tembaga yang akan memuai atau menyusut sesuai dengan tingkat suhu di sekitarnya. Pemuaian dan penyusutan ini akan membuka atau menutup lubang ventilasi mesin tetas dengan sumber panas lampu minyak. Pada mesin tetas dengan sumber panas energi listrik, pemuaian dan penyusutan spiral tembaga ini akan memutus aliran listrik. Karena suhu tubuh induk ayam/itik yang mengeram 38° C, maka thermostat harus disetel agar pada suhu lebih dari 38° C, ventilasi akan membuka atau aliran listrik putus.  Karena ventilasi membuka dan aliran listrik putus, suhu dalam box mesin tetas akan menurun. Karena suhu turun, spiral tembaga kembali menyusut hingga ventilasi menutup dan aliran listrik tersambung lagi.
Thermostat akan menjaga agar suhu mesin tetas tetap stabil pada 38° C. Thermostat sederhana ini harganya hanya sekitar Rp 150.000,- per unit. Meskipun akurasi thermostat ini tidak terlalu baik, namun mesin-mesin tetas sederhana yang menggunakannya bisa berproduksi dengan baik. Sebab pada akhirnya, operator mesin tetas itulah yang akan sangat menentukan berhasil atau tidaknya penetasan. Bukan paralatannya. Mesin-mesin tetas yang sedikit lebih canggih, akan menggunakan thermostat modern buatan RRC, Taiwan, Jepang maupun Jerman. Harga eks RRC, Taiwan dan Jepang sekitar Rp 250.000,- per unit, sementara yang dari Jerman Rp 300.000,- Karena selisih harganya tidak terlalu besar, padahal akurasi dan keawetannya lebih baik, maka banyak produsen DOC maupun DOD yang lebih memilih thermostat buatan Jerman.
Kapasitas mesin tetas sederhana ukuran terkecil adalah 50 butir telur itik atau 60 butir telur ayam kampung. Bentuknya kubus dengan panjang, lebar dan tinggi 40 cm. Biasanya mesin tetas ukuran ini menggunakan thermostat spiral tembaga. Mesin tetas kapasitas lebih besar, berukuran 80 X 80 X 60 cm. Kapasitasnya 100 butir telur itik atau 120 telur ayam kampung. Thermostat yang digunakan sudah yang modern eks impor. Kapasitas yang paling besar ukuran 100 X 100 X 70 cm. Kapasitasnya 150 butir telur itik atau 180 butir telur ayam kampung. Kapasitas ini sulit untuk diperbesar, sebab proses pembalikan telur secara manual akan susah. Tangan operator akan sulit untuk menjangkau telur yang berada paling ujung.
Mesin tetas sederhana hanya bisa dibuat satu tingkat (satu rak telur). Apabila akan dibuat susun, misalnya susun dua, tiga atau empat, harus menggunakan blower untuk menciptakan sirkulasi udara panas secara merata dalam masing-masing tingkat. Mesin tetas sederhana secara teknis sulit untuk menciptakan sistem sirkulasi udara demikian. Karenanya, mesin tetas modern sudah merupakan perangkat built up yang lengkap dengan heater berikut thermostatnya, blower, perangkat pelembap, pebalik telur dan lain-lain. Semua perangkat tersebut bekerja secara otomatis dengan sistem komputer. Satu unit mesin demikian, bisa berkapasitas sampai ratusan ribu butir satu angkatan. Mesin inilah yang digunakan oleh breeder produsen DOC ayam pedaging maupun petelur.
Ruang mesin tetas sederhana terbagi menjadi tiga bagian. Bagian bawah adalah tempat nampan berisi air guna menjaga kelembapan ruangan. Di tengah terdapat rak telur dengan alas kawat kasa kasar. Bagian atasnya berupa pemanas dari bohlam atau kawat nikelin. Di atas inilah biasanya ditempatkan thermostat. Untuk mengontrol suhu, di atas telur ditaruh thermometer biasa (C dan F). Pintu mesin tetas diberi kaca bening untuk memungkinkan operator melihat thermometer tanpa harus membuka pintu mesin. Pembukaan pintu hanya dilakukan ketika dilakukan pembalikan telur pada pagi dan sore hari, atau pada waktu pengontrolan telur dengan menggunakan lampu.
Telur yang akan ditetaskan, umurnya harus di bawah 1 minggu. Bentuknya bulat telur sempurna (tidak terlalu bulat atau terlalu lonjong). Kulit telur normal ketebalannya, dengan warna yang juga normal (tidak berbintik-bintik, terlalu terang atau terlalu gelap). Ukuran telur juga normal. Telur yang terlalu besar atau terlalu kecil harus diafkir. Telur tersebut harus berasal dari induk yang sehat dan fertil (terbuahi oleh induk jantan). Rasio ideal jantan betina pada ayam kampung adalah satu jago empat sampai enam betina. Sementara pada itik antara satu delapan sampai dengan satu sepuluh. Sebelum masuk mesin tetas, telur harus dilihat dengan kotak berlubang dengan lampu di dalamnya. Cara melihat telur, posisi telur horisontal dan diletakkan tepat pada lubang. Tanda telur yang sehat adalah bening dengan embrio di bagian tengahnya. Telur yang infertil, tidak ada titik embrio di tengahnya. Embrio yang mati ditandai dengan titik hitam.
Sebelum telur dimasukkan, mesin tetas harus dibersihkan sisa-sisa kerabang telur terdahulu. Pemanas dihidupkan dengan nampan berisi air baru. Suhu ruangan harus tetap stabil selama 1 sd. 2 jam pada angka 38° C. Setelah itu semua beres, baru telur dimasukkan. Selanjutnya suhu terus menerus dikontrol, air di nampan juga tidak boleh habis, pembalikan dilakukan minimal sehari dua kali. Pada hari ketiga, semua telur dikontrol menggunakan kotak berlampu. Telur yang akan menetas ditandai dengan adanya pembuluh darah halus yang menyebar dari embrio. Telur yang mati ada titik hitamnya pada bekas embrio. Selanjutnya, hanya telur yang hidup yang dimasukkan lagi ke dalam mesin tetas. Kontrol berikutnya dilakukan pada hari ke delapan. Selanjutnya bagian dalam telur sudah menjadi gelap hingga tidak bisa dilampu lagi.

Pada periode ini, telur yang mati ditandai dengan kulit yang dingin dan "koplak" (kalau diguncang terasa kelapa tua). Masa pengeraman telur ayam adalah 21 hari sejak telur dimasukkan mesin. Telur itik memerlukan 28 hari. Harga telur itik konsumsi saat ini Rp 900,- per butir di tingkat konsumen. Harga telur itik tetas, bisa mencapai Rp 1.000,- per butir. Dengan catatan si penetas membeli langsung ke peternak seharga Rp 600,- per butir. Angka Rp 1.000,- per butir diperoleh dengan asumsi hanya 60% dari telur tersebut yang layak untuk ditetaskan. Dari 100 butir telur yang ditetaskan, hanya 80% (80 butir) yang akan menetas. Dari 80 ekor DOD tersebut, 40 ekor betina dan 40 ekor jantan. Nilai DOD betina Rp 3.500,- per ekor. Sementara jantannya hanya Rp 1.250,- Hingga pendapatan kotor penetas adalah Rp 190.000,- bruto.
Modal untuk membeli 167 butir telur agar bisa diperoleh 100 butir layak tetas adalah Rp 600,- X 167 = Rp 100.200,- Investasi mesin tetas Rp 400.000,- disusutkan 5 tahun @ tahun Rp 80.000,- Dengan asumsi dalam setahun mampu menetaskan 10 periode, maka penyusutan per periode tetas adalah Rp 8.000,- Total modal kerja meliputi  tarif listrik, bohlam dan lain-lain di luar tenaga kerja, Rp 30.000,-. Sebanyak 67 butir telur yang tidak masuk mesin tetas, dijual debagai telur konsumsi dengan harga Rp 700,- per butir  hingga masih ada tambahan pendapatan Rp 46.900,- Total pendapatan dari DOD dan telur afkir adalah Rp 236.900,- Berarti masih ada marjin kotor per periode penetasan 100 butir telur itik sebesar Rp  106.300,- Kalau seorang penetas ingin memperoleh pendapatan kotor (upah + sewa ruangan) sebesar 1.000.000,- per bulan, maka ia harus mampu menetaskan telur itik 1.000 butir per periode, dengan minimal 10 unit mesin tetas yang dioperasikan. (R) * * *
-----


Full Otomatis


Yang terhormat para pecinta unggas,
Saat ini kami berupaya untuk terus meningkatkan kualitas dari berbagai segi, mulai dari kualitas penetas telur secara keseluruhan maupun dari segi pelayanan. Dari segi teknologi, kami telah meningkatkan kemudahan dan akurasi dalam pengaturan suhu dengan mengaplikasikan Thermostat tipe Elektronik dan Digital. Mendatang kami sedang mempersiapkan Alat Pengisi Air Otomatis dan Teropong Telur Intensitas Tinggi/ High Intensity Egg Candler dengan teknologi LED.
Mohon maaf  jika kami belum bisa memberikan respon yang baik termasuk menjawab pertanyaan, mengingat kesibukan yang membuat kami tidak mempunyai banyak waktu untuk online. Untuk itu kami sarankan untuk kontak kami via SMS di nomor yang sudah disediakan.
******
AVIAMAX  A-200D
*****
Spesifikasi :
- Setter 3 tingkat + hatcher 1 tingkat dengan bak pelembab extra pada rak telur hatcher untuk meningkatkan kelembaban, kapasitas 210 telur ayam buras / 800 telur walet, bisa dimodifikasi untuk penetas khusus telur bebek dengan kapasitas 96 telur.
- Pemutaran telur Full Automatic dengan AC Synchronous Gear Motor dan Timer
- Sistem pengatur suhu otomatis dengan Digital Thermocontroller
- Daya tetas 80 – 90%
- Pemanas lampu pijar 2×40 watt.
- Sirkulasi udara sistem forced air dengan fan 2×12v
- Built in teropong telur
- Bahan rak telur full aluminium.
- Kelengkapan : Bak air, thermometer air raksa, buku panduan.
- Dimensi : 48×33×62 (pxlxt) cm, bobot 10 kg.
- Masa produksi : 7-10 hari kerja.
*****
Harga Call / SMS : 0817 938 3260
*****

AVIAMAX  A-100D
******
Spesifikasi :
- Setter 2 tingkat + hatcher 1 tingkat dengan bak pelembab extra pada rak telur hatcher, kapasitas 100 telur ayam buras / 400 telur walet.
- Pemutaran telur Full Automatic dengan AC Synchronous Gear Motor dan Timer
- Sistem pengatur suhu otomatis dengan Digital Thermocontroller
- Daya tetas 80 – 95%.
- Pemanas lampu pijar 2×40 watt.
- Sirkulasi udara sistem forced air dengan fan 2×12v
- Built in teropong telur
- Bahan rak telur full aluminium.
- Kelengkapan : Bak air, thermometer air raksa, buku panduan.
- Dimensi : 44×30×46 (pxlxt) cm, bobot 7 kg.
- Masa produksi : 4-5 hari kerja.
******
Harga Call / SMS : 0817 938 3260
*****

AVIAMAX  A-50D
******
Spesifikasi :
- Setter 1 tingkat + hatcher 1 tingkat dengan bak pelembab extra pada rak telur hatcher, kapasitas 50 telur ayam buras / 200 telur walet.
- Pemutaran telur Full Automatic dengan AC Synchronous Gear Motor dan Timer
- Sistem pengatur suhu otomatis dengan Digital Thermocontroller
- Daya tetas 80 – 95%
- Pemanas lampu pijar 2×25 watt.
- Sirkulasi udara sistem forced air dengan fan 2×12v
- Built in teropong telur
- Bahan rak telur full aluminium.
- Kelengkapan : Bak air, thermometer air raksa, buku panduan.
- Dimensi : 45×30×36 (pxlxt) cm, bobot 5 kg.
- Masa produksi : 4-5 hari kerja.
******
Harga Call / SMS : 0817 938 3260
*****




Keterangan :

-Setter, biasa disebut rak telur pengeram, digunakan untuk memanaskan dan memutar telur mulai 0-18 hari (telur ayam) atau 0-25 hari (telur bebek).
-Hatcher, disebut sebagai rak telur penetasan, digunakan 3 hari menjelang menetas. Sebagai informasi, penetas modern umumnya menggunakan sistem setter & hatcher untuk efisiensi dan efektifitas. Setter & hatcher murni, benar-benar mempunyai rak telur terpisah, biasanya setter  diletakkan di atas dan hatcher di bawah dengan pemberian bak air pelembab extra untuk mempermudah telur menetas. Pelembab extra ini bekerja secara alamiah dan bisa meningkatkan kelembaban yang cukup tanpa menggunakan peralatan yang mahal. Sistem setter dan hatcher murni mempunyai keuntungan yaitu bisa memasukkan telur kapan saja, tidak perlu menunggu sampai terkumpul dalam jumlah besar.
Namun ada penetas merk lain yang menggunakan setter dan hatcher di satu rak, dengan cara rak telur setter ditumpuk di atas rak telur hatcher. Cara ini membuat proses penetasan tidak ada bedanya dengan penetas konvensional, yaitu harus menunggu terkumpulnya telur dalam jumlah besar, repotnya lagi harus menggunakan alat pemanas air (yang mahal dan boros listrik karena harus menggunakan kontroler kelembaban dan pemanas khusus) untuk meningkatkan kelembaban.
-Full Otomatis, adalah sistem pemutaran telur (pada rak telur setter), menggunakan motor dan timer per periode waktu tertentu, umumnya digunakan standar per 3 jam. Harap hati-hati, karena banyak penetas telur disebut otomatis padahal hanya sistem pengatur suhunya saja yang otomatis (memang sudah standar penetas telur), tapi tidak menggunakan motor dan timer untuk memutar rak telur.
-Digital Thermocontroller, adalah sebuah alat pengatur panas otomatis dengan tampilan digital yang menggunakan mikrokontroler, khusus didesain untuk penetas telur, bukan thermostat digital biasa / universal yang lebih cocok untuk aplikasi mesin pendingin.
-AC synchronous gear motor, atau biasa disebut motor sinkron, yaitu motor yang mempunyai putaran konstan dan dilengkapi dengan gearbox untuk menurunkan putaran dan menaikkan torsi. Penggunaan motor jenis ini sangat menguntungkan karena motor langsung berhenti saat arus listrik diputus tanpa ada sisa putaran, sehingga putaran menjadi lebih presisi.
-Teropong telur built in, sebuah terobosan baru dan pelopor di Indonesia, alat pemeriksa kualitas telur yang menyatu dengan penetas untuk memudahkan pemeriksaan kualitas telur yang praktis dan efektif.


Galeri Aviamax

Bak pelembab extra untuk daya tetas yang tinggi

Built in teropong telur

Box pemanas

Inside A140
Thermostat Digital
Thermostat Digital
-----

Poskan Komentar